Senin, 02 April 2012

Ketika Iman dan Islam Kita Dipertanyakan

Ketika aku melihat keadaan di sekitarku, kadang aku berpikir, untuk apa kita shalat jika hati selalu dengki dengan apa yang diperoleh orang lain, untuk apa kita shalat jika hati selalu panas dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, untuk apa kita menghadap ke kehadirat-Nya jika hati tak pernah menyatu dengan Hadir-Nya, untuk apa kita mendekat pada-Nya jika pada kenyataannya kita malah menjauh dari-Nya, untuk apa kita berpuasa jika diri kita tidak pernah sabar dengan keadaan kita yang apa adanya, untuk apa kita berpuasa jika kita tak pernah bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan-Nya, untuk apa kita berpuasa jika hati kita tidak pernah ikhlas dengan apa yang kita punya, untuk apa kita berpuasa jika kita tak dapat menahan ego dan amarah kita saat orang lain tak sepaham dengan kita, untuk apa menyerukan nama-Nya jika sebenarnya kita tak mengerti maknanya, untuk apa kita mengaku Muslim jika iman kita tak teraba dalam hati kita, untuk apa mempelajari agama-Nya jika pada kenyataannya kita tak pernah mengamalkan agama-Nya, untuk apa menjadi keturunan para wali jika pada kenyataannya hidup kita tak pernah dinaungi oleh Islam dan Iman yang mantap.

Bukankah mereka mengajak kita shalat agar hati kita menjadi tenang dan damai, bukankah mereka mengajak kita shalat agar kita selalu ingat bahwa segala yang di dunia adalah titipan dari-Nya kepada yang berhak dititipkan oleh-Nya, bukankah kita menghadap-Nya agar hati kita selalu dekat dengan-Nya dan berharap ada jalan lurus dari-Nya untuk kita, bukankah mereka mengajak kita berpuasa agar kita dapat menahan diri dari ego dan amarah yang tak seharusnya kita menurutinya, bukankah mereka mengajak kita berpuasa agar kita dapat ikhlas dengan apa yang kita miliki dan mensyukuri nikmat dari-Nya, bukankah mereka melahirkan kita menjadi Muslim karena kita adalah penegak Iman dan Islam, bukankah mereka telah mengajarkan kita agama-Nya agar kita mampu menjaga sikap dan lisan kita, bukankah mereka melahirkan kita di tengah keluarga para wali agar kita dapat selalu istiqomah di Jalan-Nya dan selalu mendapat Naungan-Nya.

Lantas apa yang membuat kita melanggar itu semua? Lantas, dimana keimanan kita selama ini? Dimana keislaman kita selama ini? Bilamana sikap dan lisan hingga akhir hayat kita tak pernah dijaga? Apa jadinya Islam yang telah dibina sejak lahir? Apa guna agama yang kita bawa jika watak kita yang keras ini tak berubah? Akankah kita menyadari penyimpangan yang membuat hidup kita ini tak pernah tenang sepanjang waktu? Tak bosankah kita menganggap diri kita selalu benar dan orang lain yang salah? Pantaskah kita menyombongkan diri seperti saat ini?

Naudzubillah.

Semoga kita tertampar, tersentak, dan kembali ke Jalan-Nya. Insya ALLAH.

Allohu’alam bi showab.

Senin, 12 Maret 2012

Share: Butiran Hikmah yang Bertebaran

dakwatuna.com - Impian adalah harapan yang memang sudah sewajarnya dimiliki oleh setiap manusia. Memiliki banyak cita-cita dapat menjadi motivasi untuk terus berusaha dan bekerja keras. Tetapi ada kalanya, ketika usaha telah maksimal, harta telah dikeluarkan, pikiran dan tenaga telah dikuras, ternyata cita-cita tak kunjung diraih. Tak jarang kekecewaan menjadi akhir perjuangan.
Namun kenyataannya tidak semua mereka yang gagal larut dalam kekecewaan. Sebagian dari mereka bahkan seolah mendapat suntikan semangat berlipat-lipat dari sebelumnya. Tak ada tempat untuk kata putus asa dan berhenti berusaha. Apa rahasianya?
Pandai meraih hikmah. Ini adalah salah-satu kunci ketenangan di antara berbagai kegagalan yang dihadapi. Akan tetapi sangat dibutuhkan kejernihan hati dan kekuatan iman untuk dapat menangkap hikmah-hikmah yang Allah hadirkan dalam setiap kejadian, karena memang tidak semua orang dapat meraih hikmah. Proses pencarian hikmah pun sangat beragam. Ada yang berhasil dalam waktu singkat, namun ada juga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Berikut beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk menangkap butir-butir hikmah yang bertebaran.
Pertama, Meyakini ketetapan Allah adalah yang terbaik
Sahabat, ketahuilah ketika kita menyusun rencana dan cita-cita, Allah SWT sesungguhnya juga telah memiliki rencana untuk kita. Kita mempunyai keinginan dan Allah pun mempunyai kehendak. Yang perlu kita pahami, Allah yang dengan kebesaranNya telah menciptakan kita dan Allah pulalah yang Maha Mengetahui akan segala kebutuhan, kesanggupan, serta segala sesuatu yang baik atau buruk bagi kita. Sehingga suatu kepastian bahwa akhirnya kehendak Allahlah yang akan berlaku. Mungkin tidak akan menjadi masalah ketika keinginan kita selaras dengan kehendak Allah. Namun akan berbeda halnya jika keinginan kita berbeda dengan kehendak Allah. Jika hal ini terjadi, maka tugas kita adalah bagaimana menyelaraskan keinginan sesuai dengan kehendak Allah. Allah mengetahui segalanya tentang kehidupan kita, sehingga apapun yang Allah tetapkan tentu merupakan yang terbaik berdasarkan pandanganNya. Sementara pandangan kita sangat terbatas. Segala rencana yang kita susun hanyalah prediksi yang kita sendiri belum memahami benar baik buruknya untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah (216) yang artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Boleh jadi dalam pandangan kita apa yang Allah berikan saat ini terasa jauh dari kebaikan. Namun percayalah bahwa pemberian Allah inilah justru yang nantinya akan mengantar kita pada kesuksesan, sehingga tidak ada pilihan selain melantunkan syukur atas karunia dan nikmatnya. Meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dapat menentramkan jiwa. Dengan hati yang tenang dan yakin Insya Allah akan semakin mudah bagi kita untuk memahami hikmah dari Nya.
Kedua, Evaluasi
Ketika kegagalan menjadi muara perjuangan, jarang sekali orang memanfaatkan momentum ini untuk melakukan evaluasi. Ada di antaranya yang sibuk menyalahkan keadaan, nasib, atau lebih parahnya lagi mengatakan Tuhan tidak adil (na’udzubillah). Padahal jika bersedia berevaluasi dan berani mengakui kesalahan, tentu akan ada banyak pelajaran yang dapat diraih. Usaha yang belum sepenuhnya sesuai syariat, hati yang kurang ikhlas, atau doa yang masih tidak didasarkan keyakinan mungkin merupakan beberapa sebab ketidakberhasilan kita dalam meraih keinginan. Setelah mengakui kesalahan, kita juga harus bertekad untuk melakukan perbaikan. Ingatlah, ketika keberhasilan kita dapatkan, sementara hati masih jauh dari keikhlasan, maka pintu kesombongan akan semakin terbuka lebar. Sedangkan sudah jelas sabda Rasulullah di dalam sebuah hadits
“Tidaklah akan masuk syurga barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan At Tirmidzi).
Mungkin Allah ingin menyelamatkan kita dari kesombongan ini dengan menunda keberhasilan. Allah memberikan kesempatan untuk meluruskan kembali niat semata-mata karenaNya. Selanjutnya, jika kegagalan disebabkan oleh cara yang melanggar aturanNya, maka dengan keberanian mengakui kesalahan kita akan dapat menjadikannya pengalaman untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang. Bersyukurlah karena Allah memberikan peluang bagi kita untuk mencapai keberhasilan dengan usaha yang benar, hati dan niat yang lurus, sehingga keberhasilan yang kita capai tidak semata keberhasilan di dunia, melainkan juga kesuksesan yang diiringi dengan keridhaannya. Maka, jangan ragu untuk melakukan evaluasi. Semoga dengan hal ini pandangan kita semakin jelas, sehingga cahaya hikmah dapat kita kenali dengan mudah.
Ketiga, Berdoa kepada sang pemilik hati
Allah SWT adalah pencipta sekaligus pemilik segala yang ada di dunia. Kita sebagai makhluk ciptaanNya sudah pasti sepenuhnya menjadi milik Allah, termasuk di dalamnya hati kita. Sebagai pemilik, Allah mempunyai kuasa penuh atas apapun yang terjadi pada hati kita. Keimanan yang hadir, rasa syukur yang tumbuh, rasa cinta kepadaNya, atau berbagai karunia lain adalah semata karena kehendak Allah. Begitu pun jika kita sangat merindukan hikmah dari kejadian yang kita alami, maka setelah mengoptimalkan usaha, doa merupakan salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Mohonlah kepada Allah agar Ia berkenan membuka hati kita untuk dapat meraih hikmah. Dengan doa yang tulus dan penuh keyakinan, Insya Allah pintu hati akan terbuka dan berbagai hikmah akan masuk ke dalamnya.
Sahabat, kita akan merasakan betapa indahnya hidup ketika setiap kejadian mampu memperlihatkan hikmahnya. Ketika kegagalan justru mengundang syukur yang mendalam. Untuk itu, mari sempurnakan usaha serta tingkatkan doa kepadaNya. Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk menangkap butiran hikmah yang cahayanya mampu menerangi hati.
Wallahu’alam.

Rabu, 22 Februari 2012

Materi Taujih LQ: TABARRUJ dan IKHTILATH

TABARRUJ
Menurut bahasa, tabarruj adalah wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada laki-laki (Ibnu Manzhur di Lisanul Arab). Tabarrajatil mar’ah artinya wanita yang menampakkan kecantikannya, lehernya, dan wajahnya. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah wanita yang menampakkan perhiasannya, wajahnya, kecantikannya kepada laki-laki dengan maksud untuk membangkitkan nafsu syahwatnya.
Menurut syariah, tabarruj adalah setiap perhiasan atau kecantikan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim.


Dalil Naqli yang behubungan dengan Tabarruj ialah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

IKHTILATH
Secara bahasa, ikhtilath adalah bercampurnya dua hal atau lebih. Ikhtilath dalam pengertian syar’i maksudnya bercampur-baurnya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim di sebuah momen dan forum yang tidak dibenarkan oleh Islam.


Dalil Naqli yang behubungan dengan Ikhtilath ialah, “Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)
Menurut buku yang pernah saya baca (xixixi...), ikhtilath adalah berbaurnya laki-laki dan perempuan yang bukan suami-istri atau mahramnya di satu ruang atau tempat yang memberikan keleluasaan mereka berinteraksi, saling pandang, bicara, dan lain-lain. Terkait hal ini, Al-Quran menjelaskan semua organ kita ini memiliki amanat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya, "Sesungguhnya pendengaran, mata, hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra':36)
Maksudnya, apapun tindakan telinga, mata, dan hati, nanti akan diberikan balasannya. Ini pula yang mengharuskan kita-kita berusaha memanfaatkan telinga, mata, dan hati, sesuai dengan amanahnya. Memanfaatkan ketiganya untuk yang baik-baik dan yang menguatkan iman.

BAHAYA TABARRUJ dan IKHTILATH
Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan bahaya tabarruj dan ikhtilah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
1. Tabarruj dan ikhtilath adalah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau.” Mereka (sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mau?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku akan masuk surga dan barangsiapa bermaksiat kepadaku ia orang yang tidak mau.” (H.R. Bukhari)
2. Tabarruj dan ikhtilath termasuk dosa besar
Karena kedua hal ini merupakan sarana paling kuat terhadap perbuatan zina. Di riwayat yang shahih dari Ahmad diceritakan bahwa Umaimah binti Raqiqah datang kepada Rasulullah saw untuk berbaiat kepada beliau dalam membela Islam. Beliau bersabda, “Aku membaiatmu agar kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak melakukan kebohongan dari hadapanmu (karena perbuatan lisan dan kemaluan), tidak meratapi (orang mati), dan tidak tabarruj dengan tabarruj jahiliyah pertama.” (H.R. Bukhari)
3. Tabarruj dan Ikhtilath mendatangkan laknat
Di Mustadrak Al-Hakim dan di Musnad Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar Rasulullah saw bersabda, “Akan datang di akhir umatku nanti laki-laki yang naik pelana (mewah) layaknya laki-laki yang turun ke pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka mengenakan pakaian namun telanjang, di kepala mereka seperti punuk unta kurus. Kutuklah wanita-wanita itu karena sesungguhnya mereka itu terkutuk. Jika setelah kalian ada kaum, tentu wanita-wanita kalian akan melayani wanita-wanita mereka sebagaimana wanita-wanita kaum terdahulu melayani kalian.”
4. Tabarruj temasuk sifat penghuni neraka
Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat sekarang ini. Satu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk memukul orang. Wanita-wanita mereka berpakaian namun telanjang, bergaya pundak mereka dan berpaling dari kebenaran. Kepala mereka seperti punuk unta kurus, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal baunya tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (H.R. Muslim)
5. Tabarruj adalah Kemunafikan yang akan Mendatangkan Kegelapan di hari Kiamat
Al-Baihaqi meriwayatkan sabda Rasulullah saw. dengan sanad shahih, “Sebaik-baik wanita kalian adalah yang penyayang, yang banyak melahirkan, yang cocok (dengan suaminya) jika mereka bertakwa kepada Allah. Dan seburuk-buruk wanita adalah yang tabarruj dan sombong. Mereka itulah orang-orang munafik. Tidak akan masuk surga salah seorang di antara mereka kecuali seperti gagak putih.” (Baihaqi)
6. Tabarruj dan ikhtilath menodai kehormatan keluarga dan masyarakat
Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Ada tiga orang yang, kamu jangan bertanya kepada mereka: seseorang yang keluar dari jamaah dan durhaka kepada imamnya lalu mati dalam keadaan bermaksiat, seorang budak perempuan dan laki-laki yang berlari (dari tuannya) kemudian ia mati, dan seorang wanita ditinggal keluar oleh suaminya dan telah dicukupi kebutuhan dunianya lalu ia bertabarruj setelah itu. Maka jangan bertanya kepada mereka.” (H.R. Ahmad)
7. Tabarruj adalah sunnah Iblis
Jika menutup aurat dan berhijab serta menjaga diri dan kehormatan adalah sunnah Nabi saw. Maka tabarruj dan ikhtilath adalah sunnah Iblis, di mana sasaran godaan pertama terhadap manusia adalah agar auratnya terbuka. Allah mewanti-wanti hal ini kepada kita agar kita tidak terfitnah oleh tipu daya Iblis. Allah berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf: 27).
8. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Permulaan Zina
Setiap kali penyimpangan terjadi akan melahirkan penyimpangan lain yang lebih besar. Ketika wanita tidak menutup auratnya dan tidak menjaga kehormatannya dengan bercampur bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, terlebih dengan dandanan yang menyebar fitnah, rasa malu sudah sirna dan ghirah laki-laki mulai tiada, maka hal-hal haram menjadi mudah dilakukan bahkan dosa-dosa besar menjadi hal yang biasa dan wajar.
9. Tabarruj dan Ikhtilath mengundang Siksaan Allah
Di hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah nampak kebejatan di antara kaum Luth sampai mereka terang-terangan (melakukannya) kecuali setelah itu tersebarlah penyakit kolera dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka.” (Ibnu Majah).
Secara umum, kemaksiatan kerap kali menjadi penyebab terjadinya berbagai musibah. Seperti yang Allah sinyalir dalam Al-Qur’an, “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’: 16)
Tentu saja yang akan terkena dampaknya tidak hanya pelaku kemaksiatan, kaum mutabarrijat dan mereka tidak ada hijab dalam hubungan antar lawan jenis. Semua orang yang ada di sebuah komunitas akan terkena dampaknya. Maka kewajiban bagi semuanya adalah mencegah terjadinya berbagai kemaksiatan dan kemungkaran sebisa mungkin. Para ulama dan pemimpin menjadi penanggung jawab utama sebelum yang lain dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Abu Bakar As-Shidiq meriwayatkan bahwa ia mendengar sabda Rasulullah saw, “Jika manusia melihat kemungkaran lalu tidak merubahnya, hampir Allah meratakan siksanya kepada mereka semua.” (Diriwayatkan Empat Imam dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

Wallahua'lam bisshowab

Selasa, 14 Februari 2012

KKN-BBM 45 UA @Asem Nonggal

Perjalanan ini dimulai tanggal 10 Desember 2011, awal pertemuan kami, hingga di hari pemberangkatan ke lokasi (Desa Asem Nonggal_red) tanggal 18 Januari 2012 dan akhirnya meninggalkan cerita ini tanggal 11 Februari 2012 lalu. Selama itu, banyak hal telah terlewati, banyak cerita yang terangkai, banyak wacana tersampaikan. Ini memang akhir perjalanan KKN-BBM 45 UA Asem Nonggal kami. Namun aku berharap cerita tentang kami takkan berakhir sampai di sini. Masih akan ada cerita lainnya tentang kami dan kebersamaan kami. Tidak sebagai kawan atau lawan, melainkan sebagai satu keluarga, saudara seperjuangan.
Hamasah, and go fighting, Saudaraku!!! I'll miss you all... \(^o^)v

Sabtu, 31 Desember 2011

Shared facebook: Tetaplah Perawan Setelah Malam Tahun Baru

By Fahrur Rozi on Saturday, December 31, 2011 at 8:52am
 
"taun baru@gaza. ps: itu bkn kmbang api, tp serpihan api dr serangn bom :(

***
Petikan Judul di atas saya kutip dari pesan dr. Posma Siahaan, seorang dokter genekologi yg sering ‘berurusan’ dengan remaja-remaja yang memiliki permasalahan seksual.

Menurut temuan beliau, ada fenomena gunung es pergaulan bebas (free sex) terutama dalam moment perayaan tahun baru, sehingga beliau merasa perlu untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda, “tetaplah perawan setelah malam tahun baru.”

Di Indonesia ini, khususnya kota-kota besar, malam tahun baru banyak dirayakan dengan pesta pora, hura-hura, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.. Hampir seluruh mal dan pusat perbelanjaan mengartikan malam tahun baru sebagai malam gila-gilaan untuk meraup omzet. Yakni dengan menggelar diskon besar-besaran sampai konser musik. Tidak ketinggalan beberapa tempat rekreasi, hotel maupun restoran pun berlomba-lomba menyemarakkan malam tahun baru dengan membuat acara yang dapat menghipnotis pengunjung agar mendatangi tempat mereka.

Tidak salah kalau kita menyatakan bahwa momment pergantian tahun (seperti yang akan segera terjadi) oleh mayoritas orang, terutama generasi muda dijadikan alasan untuk menginap di hotel, berpoya-poya, bahkan pesta seks di vila. Orang-orang yang tidak tahu bahwa agama mengharamkan perayan tahun baru, banyak diantaranya berperilaku tidak terkendali bahkan ada yang merayakan dengan pesta semalam suntuk, sampai subuh, bahkan nginap di tempat wisata sehingga hotel bintang lima.

“Tidak ada (refleksi dan instrospeksi), dok. Malah yang musim ya pesta akhir tahun di tempat-tempat wisata gitu deh. Dan banyak teman cewek saya pun pertama ML di pelepasan tahun gitu. Melepas tahun sekaligus melepas perawan, hehehe…”

Kata-kata di atas adalah kutipan pernyataan salah seorang pasien dr. Posma. Dan saya yakin itu bahkan merupakan pernyataan dari ribuan cewek-cewek lainnya yg rela 'menjual diri' ketika moment tahun baru. Miris bukan? Bagaimana kalau mereka-mereka itu adalah adik kita, teman kita, keluarga kita, relakah?

Inilah fenomena masyarakat sakit. Ngga tua, ngga muda semuanya larut dalam euforia perayaan sia-sia. Padahal agama jelas-jelas melarang perayan tersebut. Sudah jelas perayaan tahun baru merupakan perayaan nasrani, maka seharusnya kita sebagai seorang muslim menghindarinya. Nabi kita Muhammad saw, jelas-jelas melarang kita mengikuti budaya kufur,

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”
(Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Jadi, nggak usah lah kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari tanpa harus nunggu tahun baru. Lebih baik kita isi hari-hari kita dengan memperbanyak kebiakan-kebaikan, jangan sebaliknya menumpuk dosa. Dari hari ke hari kita harus lebih baik, setuju? [f.Rozy]

Tentang Ibu

Tidak banyak hal yang dapat kutuliskan tentang ibu. Terlalu mudah mendeskripsikan betapa besar jasa ibu dalam kehidupanku. Mungkin tak akan habis menjadi perbincangan betapa luar biasanya ibuku. Dia selalu menjaga, menemani, merasakan, semua hal yang terjadi dalam hidupku. Ini bukan tentang campur tangan ibu, tapi ibu memang selalu ada di saat kita butuh ataupun tidak membutuhkannya. Aku ingat ketika aku bingung harus memilih suatu pilihan, ibu selalu mendampingi dan memberikan pandangannya. Mungkin aku tak paham dengan apa yang ia bicarakan dulu, tapi kini aku mengerti bahwa dia adalah pelitaku.
Ibu, bagiku ia adalah seorang penyanyi profesional. Kenapa? Karena di saat aku menangis, ibu selalu melantunkan ayat-ayat-Nya, bersenandung ria untuk menghiburku.
Ibu, bagiku ia adalah seorang guru teladan. Kenapa? Ketika aku bingung dengan masalahku, ada ibu yang selalu mengajarkanku untuk tetap tegar menghadapi hidup.
Ibu, bagiku ia adalah superhero. Kenapa? Ketika ada orang yang mengusikku, ia selalu hadir dan melindungiku.
Ibu, bagiku ia adalah sahabat setia. Kenapa? Ketika aku merasa kesepian, tiada siapapun yang mengerti keadaanku saat ini, pasti ada ibu yang selalu menemani dan mengajakku bercanda hingga aku tertawa karenanya.
Ibu, bagiku ia adalah segalanya. Kenapa? Ketika aku merasa tidak ada lagi yang mempedulikanku dan tidak ada satupun yang bisa kuharapkan, hanya ibu yang masih tetap setia di sampingku sampai kapanpun tanpa kuminta.
Ibu, bagiku ia begitu berharga. Kenapa? Karena tanpanya, aku tak tau akan menjadi seperti apa.
Ibu, bagiku ia mulia. Kenapa? Karena pengorbanan dan ketulusan cintanya tak terhingga sepanjang masa.
“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”
Pernah aku membuatnya kecewa, tapi ia tak pernah mengungkit masa lalu.
Pernah aku membuatnya sedih, tapi hati ibu terlalu lapang untuk kusakiti.
Pernah aku membuatnya marah, tapi marahnya adalah bentuk kasih sayangnya padaku.
Mungkin aku terlalu sering menyakitinya, tapi ketulusan cintanya malah menjadi teramat sering ia curahkan untukku, hingga aku merasa tak ada daya lagi untuk membuatnya menangis.
Ibu, maafkan anakmu yang selalu membuatmu sedih. Tapi kini aku sedang berusaha menjadi anak yang bisa membuat bangga dengan hadirku di sini.
Ibu, I do love you...

^^

Sabtu, 10 Desember 2011

Enyahlah masalah

Sesuatu yang mungkin tampak baik-baik saja, sebenarnya menyimpan banyak cerita misteri. Mungkin ini sengaja dibuat untuk memberi kesan penasaran atau misterius. Akan tetapi tidak semua menyadari bahwa hal ini menyebabkan kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya. Mungkin si empunya pun tak merasakan dampak ini sekarang. Lama mempertahankan hubungan yang mungkin tampaknya baik-baik saja padahal sebenarnya jauh dari keadaan baik, ternyata tidak semenyenangkan sendiri-menyendiri, tapi akan menjadi lebih buruk jika kita yang dibuat sendirian, dalam arti ditinggalkan. Itu jauh tidak menyenangkan.
Sebenarnya hati ini mungkin lemah, bahkan terlalu lemah dan takut menghadapi kenyataan di muka. Sayangnya, tidak banyak yang bisa membantu mengatasi ini. Sampai-sampai banyak cerita yang terlalui percuma, banyak waktu yang terbuang begitu saja. Banyak yang bilang, "Berpikir positif sajalah!" tapi aku pikir tidak cukup berpikir postif saja. Banyak juga yang bilang, "Ikhlas dan coba dijalani saja dulu!" tapi aku pikir tidak cukup sekedar mengikhlaskan dan pasrah menghadapi hidup. Banyak yang bilang, "Hidup udah susah, jangan dibuat tambah susah!" tapi aku pikir tidak ada yang mau hdup susah jadi untuk apa hidup dibuat tambah susah. Mencoba memetik pelajaran dari apapun kebaikan yang ditemui, tapi tak banyak hikmah yang bisa diaplikasikan dari hasil petikan itu. Sering menemui jalan buntu, atau mungkin sekedar menjadi petikan/kutipan tulisan bermakna tapi tidak mengandung arti, atau sekedar mnejadi petikan atau kutipan cerita mengandung arti tapi tak bermakna.
Hhmmmm..... entahlah, dan aku bilang, "Enyahlah......!" >_<