Akhwatmuslimah.com – Beberapa kisah di bawah ini
bukanlah fiktif, namun benar-benar terjadi di dalam perjalanan da’wah
yang mendaki lagi sukar, sebagai sebuah sunnatullah untuk memisahkan
orang-orang munafiq dari barisan orang-orang yang beriman, sebagai
seleksi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membedakan antara loyang
dan emas.
Janganlah berpecah belah, kita semua bersaudara.
Janganlah merasa lebih, sesama kita.
Mengapa kau patahkan pedangmu sehingga musuh mampu membobol bentengmu.
Seorang ustadz berkisah tentang dua orang akhwat yang sangat tangguh
dan berkualitas di jalan da’wah. Mereka ada dalam ‘satu kandang’
da’wah. Namun sangat disayangkan, hal itu justru menimbulkan persaingan
da’wah yang tidak sehat di antara mereka. Futur melanda, situasi
“panas” dan akhirnya seorang dari mereka melepas jilbabnya dan yang
lainnya, hengkang dari jalan da’wah. Kekecewaan sangat mendalam, hingga
berguguranlah mereka dari jalan yang mulia ini.
“Ana tidak mau ikut-ikut (da’wah –red) lagi, habis adik-adiknya susah
diatur!”, ucap seorang kader senior yang mendapat amanah sebagai mas’ul
sebuah departemen lembaga da’wah. Ia memutuskan untuk tidak mau
terlibat lagi dalam pergerakan da’wah. Ia mengaku kesal, kecewa, dan
jera dengan sikap adik-adik kampus yang “bandel” alias tidak taat pada
perintahnya dan sering protes kepadanya. Kini ia berjalan sendiri di
tengah dunia hedon, keluar dari lingkaran da’wah. Ia merasa “menang”
dengan tindakannya itu karena ia beranggapan bahwa dengan demikian,
lembaga da’wah telah kehilangan satu kadernya.
Di sebuah pengajian rutin, dua orang ikhwan dalam kondisi perang
dingin. Bila yang satu datang, yang lain pasti tak mau datang hingga
muncul motto, “Tidak boleh ada dua singa dalam satu kandang.”
Sebab-Sebab Kekecewaan
Tidak ada asap kalau tidak ada api. Kekecewaan dapat muncul karena ada
keinginan yang tidak terpenuhi, tak terpuaskan. Kecewa yang kita
bicarakan adalah kecewa di jalan da’wah. Kekecewaan ini dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, dan penyebab kekecewaan yang seringkali terjadi
adalah:
Pertama, kekecewaan aktivis karena jengah melihat jurang yang
dalam antara idealisme dan realitas, antara ilmu dan amal. Sebagai
contoh, sang aktivis membaca shirah nabawiyah yang di dalamnya
dikisahkan bagaimana indahnya ukhuwah sang nabi dan para sahabat, pun
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa,
“Sesungguhnya orang-orang
beriman itu bersaudara.” Tapi realitanya, ukhuwah itu tidak ia dapatkan
di lapangan, justru sebaliknya.
Kedua, kekecewaan akitivis yang lebih dilandasi hawa nafsu dan
tipu daya syetan, karena tidak tercapainya ambisi pribadi. Contoh
ambisi pribadi itu adalah, ingin menjadi pemimpin, ingin kata-katanya
selalu didengar, ingin pendapatnya harus diterima, pun tidak mau
menerima nasehat dari yang ia anggap “lebih rendah” dan merasa diri
paling berjasa dengan motto, “Kalau bukan karena ane, ngga bakal jalan
da’wah ini.”
Ketiga, kekecewaan aktivis karena tidak puas dengan
kebijakan-kebijakan qiyadah (pemimpin), keputusan syuro, kondisi da’wah
yang selalu dibebankan padanya dan manajemen lembaga da’wah.
Feed Back Positif dan Negatif
Tak ada manusia yang tak pernah kecewa karena sesungguhnya kecewa itu
manusiawi. Hanya saja, feed back dari kekecewaan itu berbeda pada diri
setiap orang. Ada orang-orang yang mampu mengatasi dan mengubah
kekecewaan itu dengan energi positif yang konstruktif, namun ada juga
orang-orang yang tidak mampu mengatasinya karena lebih didominasi energi
negatif yang destruktif.
Kekecewaan tak lagi syar’i bila didasari hawa nafsu, dan bukan atas
dasar kebenaran (al haq). Tak lagi rasional bila kemudian berubah
menjadi kedengkian dan kebencian yang menghancurkan diri sendiri dan
memporak-porandakan teman-teman di sekelilingnya, menjadi duri dalam
daging. Maka motto yang sebaiknya ada dalam diri kita adalah, “Jangan
terlalu banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.”
Energi Positif
Ada sembilan energi postif yang dapat menjadi bahan bakar di dalam jiwa untuk mengatasi kekecewaan yang melanda, yaitu:
1. Tentara terdepanmu adalah keikhlasan
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan
kebaikan……..” (QS. An Nisaa: 125)
Meminjam istilah dari sebuah artikel yang pernah penulis baca, Tentara
Terdepanmu adalah Keikhlasan. Istilah ini sangat tepat karena memang
keikhlasan adalah garda terdepan kita untuk menghadapi segala rintangan
di jalan da’wah. Keikhlasan membuat kita tak kenal lelah dan tak kenal
henti dalam menyampaikan Al Haq karena tujuan kita hanya satu, Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya
duniawi, maka saat tujuan itu tak tercapai, kita akan mudah kecewa dan
berbalik ke belakang. Bila berda’wah lantaran mengharapkan apa-apa yang
ada pada manusia, berupa penghormatan, penghargaan, pengakuan
eksistensi diri, popularitas, jabatan, pengikut dan pujian, maka
hakekatnya kita telah berubah menjadi hamba manusia, bukan lagi hamba
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kisah yang sangat menarik ketika Khalid bin Walid selaku panglima
perang yang notabene sangat berjasa bagi kaum muslimin, tiba-tiba
diturunkan jabatannya menjadi prajurit biasa, oleh Khalifah Umar bin
Khattab. Namun Umar melakukan itu karena melihat banyaknya kaum
muslimin yang mengelu-elukan kepahlawanan dan cenderung mengkultuskan
Khalid, sehingga Umar khawatir hal itu akan membuat Khalid menjadi ujub
(bangga diri), yang dapat berakibat hilangnya pahala amal-amal Khalid
di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan subhanallah…., Khalid tidak
marah ataupun kecewa karena jabatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut
berperang di bawah komando pimpinan yang baru. Ketika ditanya tentang
hal itu, Khalid menjawab dengan tenang, “Aku berperang karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena Umar. “
2. Harus Tahan Beramal Jama’i
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada Tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai……” (QS. Ali Imran: 103)
Beramal jama’i itu jalannya tak selalu datar, ada kalanya mendaki,
karena dalam beramal jama’i, kita akan menemui berbagai macam sifat
manusia, berbagai pemikiran, fitnah dari luar, pun dari dalam. Namun
bagaimanapun buruknya kondisi jamaah, tetap saja amal jama’i itu lebih
baik dan lebih utama daripada sendirian. Ali bin Abi Thalib berkata,
“Keruhnya amal jama’i, lebih aku sukai daripada jernih sendirian.“
Kekuatan utama kita adalah persatuan kaum muslimin. Sesungguhnya
kekalahan kita saat ini bukanlah karena kehebatan bersatunya kaum
kuffar, tetapi karena tidak bersatunya kaum muslimin. “Kejahatan yang
terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”
Orang-orang yang memisahkan diri dan lari dari barisan da’wah,
sesungguhnya tidak akan membuat barisan da’wah itu melemah atau
kehilangan kader, justru barisan itu akan semakin solid dan kokoh
karena mengindikasikan yang tergabung di dalamnya, tinggallah
orang-orang yang teruji memiliki jiwa-jiwa pemersatu. Inilah sebuah
sunnatullah yang senantiasa berlaku untuk membedakan antara loyang dan
emas. Jadi, kita harus tahan beramal jama’i !
3. Bermanfaat bagi orang lain
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Qudhy dari Jabir).
Bila kita melihat ukhuwah dalam barisan da’wah ternyata belum seindah
seperti shirah yang kita baca, atau ternyata hijab di lembaga da’wah
amat cair, maka adalah sangat wajar bila kita kecewa. Tetapi kekecewaan
itu janganlah dipelihara, jangan justru membuat kita bersungut-sungut,
menuntut lebih, berkeluh kesah, apatah lagi sampai memisahkan diri dari
barisan. Mari ubah sudut pandang, dan kita tekankan bahwa segala
kekurangan yang ada pada barisan da’wah adalah justru menjadi kewajiban
kita untuk membenahinya. “Jangan banyak menuntut, jadikan diri kita
bermanfaat bagi orang lain.”
4. Penuhi hak sesama muslim
a. Saling menasehati. (QS. Al Ashr: 1-3)
Kekurangan dalam diri qiyadah, jundi, lembaga, manajemen, hendaknya
disampaikan dalam bentuk nasehat. Untuk yang sifatnya pribadi – sebagai
adab nasehat- adalah disampaikan tidak dalam forum, tetapi disampaikan
pribadi, berdua saja, dalam rangka saling berpesan untuk nasehat
menasehati dalam menetapi kesabaran. Karena bila kita memberi nasehat
dihadapan orang banyak, maka itu sama saja dengan membuka aibnya dan
menjatuhkannya, apalagi bila sampai melakukan sidang layaknya menghakimi
terdakwa. Sangatlah tipis perbedaan antara orang yang ingin menasehati
karena landasan kasih sayang, dengan orang yang menasehati karena
sekaligus ingin membuka aib saudaranya, sehingga membuat diri yang
dinasehati seakan lebih rendah, dari yang menasehati.
b. Lemah lembut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang salah satu ciri jundullah (tentara Allah), yaitu ”…….yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min………” (QS. Al Maidah: 54)
c. Jangan dengki. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kamu semua akan sifat dengki sebab sesungguhnya dengki itu memakan segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Riwayat Abu Daud dari Abi Hurairah)
d. Jangan suudzon. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain………” (QS. Al Hujuurat: 12)
e. Berendah Hatilah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan
rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu
orang-orang yang beriman.” (QS. An Naml: 215)
f. Jangan Berbantahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “…..dan
Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menjadikan kamu gentar, dan
hilang kekuatanmu…….”(QS. Al Anfaal:46). Berbantah-bantahan sesama
kita, padahal musuh di luar, sudah siap menerkam.
5. Musuh terbesar kita adalah syetan
Musuh kita bukanlah seorang muslim, apatah lagi sesama aktivis. Musuh
terbesar kita adalah iblis dan bala tentaranya. Mereka senantiasa akan
merusak ukhuwah kita dari kiri, kanan, depan, dan belakang (QS. Al
A’raf: 17). Hendaknya kita senantiasa ingat akan janji iblis untuk
menyesatkan hamba-hamba-Nya (QS. Al Israa:62). Ini akan menjadi landasan
kita untuk selalu menatap saudara kita dengan penuh kasih sayang
karena boleh jadi saat saudara kita menyakiti kita, adalah lantaran
banyaknya syetan di sekelilingnya yang terus menerus membisikinya untuk
membenci kita, demikian pula sebaliknya, bisa jadi syetan
menghembuskan prasangka-prasangka di dalam benak kita. Maka, mari kita
jadikan syetan sebagai musuh bersama.
6. Sukses da’wah bukanlah karena kehebatan kita
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka, bukan kamu yang membunuh
mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang
melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (Al
Anfâl: 1)
Ayat ini menyatakan bahwa kemenangan dalam medan peperangan, pun dalam
suksesnya da’wah, bukanlah karena kepintaran kita dalam membuat
strategi da’wah, tetapi tak lebih karena pertolongan dari Allah. Jika
tidak, maka apa bedanya kita dengan Qarun yang berkata, “Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku…..” (QS. Al
Qashash:78). Dan kita lihat bagaimana ending kehidupan dari Qarun yang
ditenggelamkan Allah Subhnahu wa Ta’ala ke perut bumi.
7. Mujahid itu teman kita sendiri
Mujahid dan mujahidah itu sesungguhnya ada di sekeliling kita, di dekat
kita. Ya, bisa jadi mereka adalah teman-teman kita sendiri. Maka sangat
aneh bila kita kerap kali menitikkan air mata saat ingat
mujahid-mujahid di Palestina, Iraq, Chechnya, Afghanistan, dan
lain-lain, tetapi dengan saudara-saudara mujahid di sesama lembaga saja,
kita tidak bisa berlapang dada.
8. Ingat Kematian
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah
kalian mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyak mengingat mati,
maka Allah akan menghidupkan hatinya, dan Allah akan meringankan baginya
rasa sakit saat kematian.”
9. Doakan di shalat malam kita
Doa adalah senjata orang-orang beriman dan bila kita mendoakan saudara
muslim kita tanpa sepengetahuannya, maka para malaikat akan berkata,
“untuk kamu juga…”. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak seorang Muslim pun mendoakan kebaikkan bagi saudaranya sesama
Muslim yang berjauhan melainkan malaikat mendoakannya pula.
Mudah-mudahan engkau beroleh kebaikkan pula.” (HR. Muslim)
Penutup
Menyatakan diri sebagai orang beriman, sebagai seorang du’at (pengemban
da’wah), sebagai seorang aktivis da’wah, sesungguhnya mengandung
konsekuensi yang tidak ringan. Yaitu kita senantiasa akan mendapat ujian
keimanan dari sang pemilik 99 Al Asmaul Husna. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan
(begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan)
orang-orang yang berjihad di antara Kamu………. “ (QS. 9:16). Dan di surat lainnya, “Apakah
kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta macam-macam cobaan.” (QS. Al-Baqarah:214)
Tersenyumlah dalam duka dan tenanglah dalam suka. Insya Allah dengan
mengingat sembilan energi positif, akan membuat kita bersabar, dan
enggan berpisah dari jalan da’wah ini. “Dan janganlah kamu bersikap
lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang
yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. “ (QS. Ali Imran: 139).