Tampilkan postingan dengan label introspeksi diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label introspeksi diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2015

Sekedar Alasan

Orang tua itu... sejak kita kecil hingga dewasa sekarang selalu memenuhi semua kebutuhan kita, mulai dari makanan yang beragam, pakaian dengan banyak model dan warna yang kita suka, tempat tinggal yang layak nan nyaman, biaya pendidikan yang terkadang besarnya di luar nalar, sampai uang jajan yang seringnya kita pakai (maaf) untuk dihamburkan percuma. Jadi, apa kita masih punya alasan buat marah-marah atau sekedar bermuka kusut pada orang tua?

Kamis, 08 Oktober 2015

Jangan Mengeluh, Bersyukurlah

Ketika kau merasa bahwa apa yang kau miliki saat ini tak cukup untuk memenuhi hasratmu, lalu bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang untuk memenuhi kebutuhan hariannya saja harus memeras peluh sepanjang waktu, siang dan malam.

Ketika kau merasa tidak nyaman dengan makanan yang terhidang di hadapanmu, bagaimana bisa kau menolak bahkan membuangnya seakan itu sia-sia, sedangkan orang-orang di luar sana, untuk mendapatkan sesuap nasi saja harus membanting tulang sepanjang waktu, siang dan malam.

Ketika kau merasa bahwa belajar dan sekolah adalah hal yang membosankan, lalu bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga tamat SLTA saja harus berjuang keras mengumpulkan biaya.

Terkadang hal yang kita anggap sepele, sederhana, atau mungkin tampak terlalu mudah didapatkan bisa jadi sangat rumit dan sulit untuk orang lain.

Terkadang hal yang kita anggap murah, bisa jadi teramat mahal untuk orang lain.

Terkadang hal yang kita anggap biasa saja, bisa jadi menurut orang lain itu luar biasa.

Tak perlulah kita mengeluhkan apa yang dimiliki mereka-mereka yang diberi kelebihan dan tak pula menjadi alasan untuk merendahkan mereka-mereka yang lebih kurang beruntung daripada kita. Bukankah kita hanyalah manusia biasa? Kita tak miliki hak apapun untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Di sisi Tuhan, manusia adalah sama, kecuali takwa.

Jangan mengeluh, bersyukurlah. Pandanglah diri kita sebagai golongan orang-orang yang beruntung. Tak perlu melihat orang lain, cukup perhatikan diri kita. Pantaskan diri kita di Hadapan-Nya, barulah kita bisa menilai apakah kita benar-benar lebih baik atau malah sebaliknya.

Jangan mengeluh, bersyukurlah.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Jumat, 25 April 2014

Periode Introspeksi Diri

Setelah beberapa saat menulis serangkaian kegalauan dengan sekelumit masalahnya, aku mencoba membuat satu titik pencerahan. Untukku, untukmu, untuk kita. Karena satu alasan, bahwa memang di sini dan dengan keadaan seperti inilah kita belajar tentang hidup.

Tak bermaksud membuatmu terhanyut dalam kegalauan yang kualami.
Tak bermaksud melibatkanmu dalam setiap masalah yang kujalani.
Tak bermaksud menenggelamkanmu semakin dalam terhadap kegelisahanmu sendiri tentang masa depan dan sebongkah harapan.

Aku sekedar ingin menyampaikan bahwa, tak hanya dirimu, tetapi juga aku, dia, kita, memiliki perasaan yang sama terhadap hidup.
Aku sekedar ingin menyadarkan bahwa, dirimu tak sendiri yang merasakan perih, tetapi juga aku, dia, kita.
Aku sekedar ingin menunjukkan bahwa, masalah hidup tak hanya padamu, melainkan juga aku, dia, kita.

Tak ada satu pun yang tak pernah merasakan beratnya perjalanan hidup.
Aku, kamu, dia, kita, semua pasti mengalami.
Namun, apakah kita lantas menyerah karena ini?
Namun, apakah hidup kita berakhir karena ini?
Namun, apakah kita akan mati karena ini?
Tidak.
Selalu ada tempat bersandar, selalu ada tempat berbagi, selalu ada tempat mencurahkan isi hati, selalu ada tempat untuk berpasrah diri.
Hanya memang, kita perlu mencari-cari dimanakah itu.
Tuhan telah menjamin kehidupan kita.
Tuhan telah menjanjikan kehidupan terbaik bagi kita.
Tak ada ujian seberat apapun melainkan itu sesuai dengan kemampuan kita.
Tuhan takkan membebani apapun jika kita tak mampu menanggungnya.

Berpikir positif dan cobalah menyelesaikannya meskipun perlu berjalan perlahan.
Dan ketika kau lelah berjalan, berhentilah sejenak, berpikir, dan cobalah untuk memulainya kembali.
Selesaikanlah, meskipun tak selalu menjadi benar adanya.
Tak apa.
Segala hal butuh proses, bukan?
Tak hanya untuk dirimu, melainkan juga untukku, untuk kita.
Setidaknya kita telah mencoba memperbaiki semuanya.
Introspeksi diri, mencoba membuka diri, dan mulai melangkah.

Memang takkan semudah rangkaian kata yang kutuliskan, tapi beginilah salah satu upaya seorang manusia membangkitkan lagi semangat yang sempat fluktuasi dan nyaris pudar.
Ya, beginilah ikhtiar seorang manusia mengajak dirinya dan saudaranya kembali tersenyum.
Ya, beginilah cara seorang manusia mencoba memberi setitik cahaya untuk membangun kembali harapan dan berani menatap masa depan. 
Ya, beginilah aku.

It's all about You and me.

Perjalanan hidup yang takkan pernah tergantikan.
Setiap perjalanan, baik dengan atau tanpa kita sadari, akan memberikan pelajaran berharga tentang arti hidup itu sendiri.
Entah bagaimana mendefinisikannya, setiap orang berhak atas pemikirannya.

Dan satu hal, aku bangga melihat betapa besar perjuanganmu menyelesaikan ujian Tuhan. Tantangan hidup.
Aku bangga melihatmu membuktikan pada dunia bahwa kau mampu menaklukan kekhawatiranmu yang teramat.
Aku bangga melihatmu mampu bertahan dalam terpaan badai kehidupan. Kau tau? Takkan lama lagi itu akan berganti rinai dan segera menampakkan indahnya pelangi yang senantiasa memberikan senyuman hangat di kala hujan. 
Bersyukurlah atas kemampuan yang (tanpa kau sadari) kau miliki. Melewatkan masa sulit, hari-hari menyenangkan, ujian, huru-hara, apapun itu.
Warna-warni yang menghiasi perjalanan hidupmu, aku suka.

Selamat atas keberanianmu.
Selamat atas ketangguhanmu.
Selamat atas kesabaranmu menghadapi dunia.
Berjuanglah, saudaraku, kita sedang naik tingkat!
Percayalah bahwa tak hanya kau sendiri. Ada aku, dia, kita.
Always cheers and keep smiling ^_^


Selasa, 04 Desember 2012

Introspeksi diri: Biarkan berbeda

Ini kisahku dengan seorang sahabatku. Cerita sederhana, tapi terkadang menjadi masalah rumit. Ini tentang prinsip dan gaya hidup.

Suatu prinsip memang tak pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. Aku menganggap suatu hal tak boleh, tapi dia membolehkannya dan menganggap hal itu wajar saja. Aku tak biasa dengan gaya hidupnya dan menghindari berdebat dengannya hingga aku tak kembali membahasnya. Tapi ternyata justru mengalihkannya membuat dia memperbaiki semuanya dan beralih aku yang bersalah. Aku ingin maafnya, tapi tak sempat kukatakan. Lidahku kelu. Kupikir tak menjadi persoalan besar, tapi ternyata membesar. Sebenarnya tidak, tapi saat ini rasanya iya. Aku ingin maafnya.

Sobat, maafkan aku… aku sadari hatiku keras, tak seperti hatimu yang selembut kapas. Aku sadari pemikiranku terbatas, tak sepertimu yang berpikiran luas ke depan. Aku sadari perbedaan gaya hidup menjadi celah, tapi tak harus menjadi selisih antara kita, bukan? Sobat, maafkan aku… Kucoba mengertimu mulai saat ini, meski tak bisa mengikuti caramu menatapi persoalan apapun. Kau, tak perlu mencoba mengerti aku karena caraku terlalu rumit untuk kau mengerti. Biarkan kita berbeda.

Serumit apapun masalah kita, biarkan kita menjadi penengah. Menjadi pihak yang mengalah, tak berarti dia kalah. Ini memang bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ini tentang bagaimana seseorang dapat berbesar hati menerima kenyataan yang tak sesuai dengan inginnya, berpikir positif, bersabar, ikhlas, dan tetap menghadapi semuanya dengan senyuman. Kekecewaan memang tak dapat dihindari oleh setiap orang. Yang berbeda adalah bagaimana mereka dapat menanggapinya, mengatasi persoalannya, dan mampu mengevaluasi diri, Aku memang tak sesempurna tulisan ini, tapi kucoba mengintrospeksi diri dan berbagi pengalaman ini agar setiap orang dapat mengambil ibroh (pelajaran) di dalamnya.

Selasa, 16 Oktober 2012

Ikhlas, Berpikir Positif, dan Introspeksi Diri

Ada seorang teman bertanya tentang sebuah ketulusan, persahabatan, dan cinta.

Ketika melihat sahabat kita berbahagia, patutlah kita sebagai teman yang paling dekat dengannya turut merasakan bahagianya. Ketika sahabat bersedih, sepantasnya kita sebagai kerabatnya ikut menanggung perih. Tapi, ketika rasa empati yang seharusnya ada malah terjadi sebaliknya, bagaimana? Bagaimana kita menghapus rasa iri hati kepada orang lain ketika orang itu mendapat kesuksesan, padahal dalam hati tak ingin memiliki penyakit hati, tapi perasaan buruk itu selalu saja muncul? 
“Setiap anak Adam tidak luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi).

Aku tak akan membicarakan tentang indahnya memaafkan saat ini, tapi aku sekedar mencoba sedikit mengkaji tentang hadist tersebut dari sudut pandangku terkait kasus seorang teman tadi. Kawan, tak ada satu manusia pun yang sempurna di dunia ini. Jadi jangan pernah mengharapkan bahwa aku, engkau, atau siapa pun akan bersikap dan berkata selalu benar. Setiap harinya, di setiap jam, menit, bahkan detik, bisa jadi kita melakukan kesalahan, baik disadari maupun tidak. Berikut juga tentang rasamu. Melihat orang lain, apalagi saudara kita, ketika mendapatkan keberhasilan di atas kegagalan kita, tak dipungkiri ada sedikit/banyak rasa iri. Rasa iri pastilah ada. Wajar sebagai manusia. Tapi, apakah rasa iri harus terus-menerus kita biarkan dalam hati? Tidak. Mungkin awalnya berat menerima, tapi sekali lagi, berpikir positiflah. Mungkin kegagalan ini memang karena usaha kita yang belum memadai. Aku takkan mengatakan kegagalan adalah awal kesuksesan. Setiap kegagalan yang kita dapatkan, biarkan menjadi pelajaran saja, dan berpikir untuk memperbaikinya di masa mendatang. Sebagai manusia, kita hanya boleh iri dalam dua hal, yaitu pertama iri dalam hal ilmu yang bermanfaat dan kedua iri dalam hal harta yang dikeluarkan di jalan ALLAH. Istighfar. Kata-kata lazim yang seharusnya kita kretek setiap waktu dalam hati. Seberapa banyak kali kita menyebutnya tak berarti. Biarkan tak berbatas. Astaghfirullahal’adzim… lebih aman mengucapkannya berkali-kali. Mungkin ini salah satu cara menenangkan diri. Memang tak semua orang bisa melakukannya, tapi tak ada salahnya mencoba mendekatkan diri pada ALLAH dengan cara berucap dzikir-dzikir sederhana seperti ini.

Ketika seorang kerabat dalam keadaan futur sehingga diri menjadi kesal karenanya, apa yang harus kita lakukan untuk menghapusnya? Seperti pertanyaan sebelumnya hanya berbeda kondisi. Kehidupan manusia itu seperti roda yang selalu berotasi. Ada saatnya manusia berada di atas, dan ada saatnya manusia berada di bawah. Ada saatnya keimanan seseorang berada di puncaknya, ada saatnya di mana keimanannya melemah. Entah karena suatu hal. Mungkin saat ini dia sedang memiliki masalah, atau bisa jadi terpengaruh oleh lingkungan sehingga membuat perilakunya berubah. Intinya, tidak ada salahnya mencoba berbasa-basi, menanyakan masalah yang sedang dihadapi saat ini, atau jika tidak, biarkan dia dengan sikapnya saat ini hingga akhirnya kembali seperti sebelumnya. Tak ada yang mampu mengartikan isi hati manusia. Kadang lisan mengatakan baik-baik saja, belum tentu hati dalam keadaan baik. Biarkan dia tenang dengan pikirannya. Jika hati sudah terlanjur kesal dengan sikap futurnya, alangkah lebih baik jika kita menghindari pertemuan untuk sementara waktu. Jangan sampai suasana hati yang tidak baik menjadikan sikap kita menjadi tidak baik dan akhirnya menimbulkan permusuhan.

Lalu, tentang hasil belajar yang kadang tak lebih memuaskan daripada mereka yang hanya berusaha sekedarnya? Salahkah perasaan kesal terhadap mereka? Kawan, bukankah belajar juga merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada ALLAH? Bukankah kita belajar juga untuk mendapatkan ridho-Nya? Atau, apakah belajar kita semata-mata hanya untuk mengejar nilai yang takkan ada habisnya menjadi persoalan? Atau, bisa jadi, tanpa kita tau, mereka lebih keras berjuang daripada kita? Secara pribadi, saat ini, sebagai seorang penuntut ilmu, mungkin nilai adalah tujuan utama. Tapi, entah bagaimana caranya, aku berusaha untuk berpikir positif. Sekali lagi berpikir positiflah. Mungkin tak sekarang, tapi aku yakini bahwa apa yang telah kita tanam pasti akan kita panen hasilnya. Mungkin tak sekarang, mungkin besok, lusa, minggu depan, tahun depan, atau mungkin di akhirat nanti, entah kapan. Seberapa besar perjuangan kita, biarkan ALLAH saja yang menilai. Mungkin ini terlalu naïf. Tapi apa yang bisa kita perbuat dengan kenyataan seperti itu. Kita tak mungkin hanya kesal, pesimis, dan terdorong untuk berbuat curang seperti mereka, kan? Yang bisa kita lakukan hanya mencoba melakukan yang terbaik. Just it.

Jangan pernah menyerah dengan apa yang sudah kita alami selama ini, Kawan…

Hidupmu indah bila kau tau jalan mana yang benar… Harapan ada jika kau percaya…

Allahu'alam bish showab...