Ada seorang teman bertanya
tentang sebuah ketulusan, persahabatan, dan cinta.
Ketika melihat sahabat kita
berbahagia, patutlah kita sebagai teman yang paling dekat dengannya turut
merasakan bahagianya. Ketika sahabat bersedih, sepantasnya kita sebagai
kerabatnya ikut menanggung perih. Tapi, ketika rasa empati yang seharusnya ada
malah terjadi sebaliknya, bagaimana? Bagaimana kita menghapus rasa iri hati
kepada orang lain ketika orang itu mendapat kesuksesan, padahal dalam hati tak
ingin memiliki penyakit hati, tapi perasaan buruk itu selalu saja muncul?
“Setiap anak Adam tidak luput
dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang
bertaubat.” (HR Tirmidzi).
Aku tak akan membicarakan tentang
indahnya memaafkan saat ini, tapi aku sekedar mencoba sedikit mengkaji tentang
hadist tersebut dari sudut pandangku terkait kasus seorang teman tadi. Kawan,
tak ada satu manusia pun yang sempurna di dunia ini. Jadi jangan pernah
mengharapkan bahwa aku, engkau, atau siapa pun akan bersikap dan berkata selalu
benar. Setiap harinya, di setiap jam, menit, bahkan detik, bisa jadi kita
melakukan kesalahan, baik disadari maupun tidak. Berikut juga tentang rasamu.
Melihat orang lain, apalagi saudara kita, ketika mendapatkan keberhasilan di
atas kegagalan kita, tak dipungkiri ada sedikit/banyak rasa iri. Rasa iri
pastilah ada. Wajar sebagai manusia. Tapi, apakah rasa iri harus terus-menerus
kita biarkan dalam hati? Tidak. Mungkin awalnya berat menerima, tapi sekali
lagi, berpikir positiflah. Mungkin kegagalan ini memang karena usaha kita yang
belum memadai. Aku takkan mengatakan kegagalan adalah awal kesuksesan. Setiap
kegagalan yang kita dapatkan, biarkan menjadi pelajaran saja, dan berpikir
untuk memperbaikinya di masa mendatang. Sebagai manusia, kita hanya boleh iri
dalam dua hal, yaitu pertama iri dalam hal ilmu yang bermanfaat dan kedua iri
dalam hal harta yang dikeluarkan di jalan ALLAH. Istighfar. Kata-kata lazim
yang seharusnya kita kretek setiap
waktu dalam hati. Seberapa banyak kali kita menyebutnya tak berarti. Biarkan
tak berbatas. Astaghfirullahal’adzim… lebih aman mengucapkannya berkali-kali.
Mungkin ini salah satu cara menenangkan diri. Memang tak semua orang bisa
melakukannya, tapi tak ada salahnya mencoba mendekatkan diri pada ALLAH dengan
cara berucap dzikir-dzikir sederhana seperti ini.
Ketika seorang kerabat dalam
keadaan futur sehingga diri menjadi kesal karenanya, apa yang harus kita
lakukan untuk menghapusnya? Seperti pertanyaan sebelumnya hanya berbeda
kondisi. Kehidupan manusia itu seperti roda yang selalu berotasi. Ada saatnya
manusia berada di atas, dan ada saatnya manusia berada di bawah. Ada saatnya
keimanan seseorang berada di puncaknya, ada saatnya di mana keimanannya
melemah. Entah karena suatu hal. Mungkin saat ini dia sedang memiliki masalah,
atau bisa jadi terpengaruh oleh lingkungan sehingga membuat perilakunya
berubah. Intinya, tidak ada salahnya mencoba berbasa-basi, menanyakan masalah
yang sedang dihadapi saat ini, atau jika tidak, biarkan dia dengan sikapnya
saat ini hingga akhirnya kembali seperti sebelumnya. Tak ada yang mampu
mengartikan isi hati manusia. Kadang lisan mengatakan baik-baik saja, belum
tentu hati dalam keadaan baik. Biarkan dia tenang dengan pikirannya. Jika hati
sudah terlanjur kesal dengan sikap futurnya, alangkah lebih baik jika kita
menghindari pertemuan untuk sementara waktu. Jangan sampai suasana hati yang
tidak baik menjadikan sikap kita menjadi tidak baik dan akhirnya menimbulkan
permusuhan.
Lalu, tentang hasil belajar yang
kadang tak lebih memuaskan daripada mereka yang hanya berusaha sekedarnya? Salahkah
perasaan kesal terhadap mereka? Kawan, bukankah belajar juga merupakan salah
satu bentuk ibadah kita kepada ALLAH? Bukankah kita belajar juga untuk
mendapatkan ridho-Nya? Atau, apakah belajar kita semata-mata hanya untuk
mengejar nilai yang takkan ada habisnya menjadi persoalan? Atau, bisa jadi,
tanpa kita tau, mereka lebih keras berjuang daripada kita? Secara pribadi, saat
ini, sebagai seorang penuntut ilmu, mungkin nilai adalah tujuan utama. Tapi,
entah bagaimana caranya, aku berusaha untuk berpikir positif. Sekali lagi
berpikir positiflah. Mungkin tak sekarang, tapi aku yakini bahwa apa yang telah
kita tanam pasti akan kita panen hasilnya. Mungkin tak sekarang, mungkin besok,
lusa, minggu depan, tahun depan, atau mungkin di akhirat nanti, entah kapan. Seberapa
besar perjuangan kita, biarkan ALLAH saja yang menilai. Mungkin ini terlalu naïf.
Tapi apa yang bisa kita perbuat dengan kenyataan seperti itu. Kita tak mungkin
hanya kesal, pesimis, dan terdorong untuk berbuat curang seperti mereka, kan? Yang
bisa kita lakukan hanya mencoba melakukan yang terbaik. Just it.
Jangan pernah menyerah dengan apa
yang sudah kita alami selama ini, Kawan…
Hidupmu
indah bila kau tau jalan mana yang benar… Harapan ada jika kau percaya…
Allahu'alam bish showab...