Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2015

Renungan Malam #1

Saat dunia telah terlelap, sementara aku masih terjaga sendiri, aku merenungkan sesuatu. Setiap orang memiliki cerita kehidupannya masing-masing. Terkadang kumelihat orang lain lebih beruntung daripada aku, namun kutahui bahwa itu menunjukkan bahwa aku menjadi kurang bersyukur. Di sisi berbeda, aku melihat ternyata perjalanan hidupku yang terlalui sebenarnya telah memberiku banyak pelajaran, tak melulu melihat sisi buruk dari sebuah perjalanan meskipun tak kupungkiri perasaan itu mungkin akan ada saja melekat dalam benak hingga akhir. Terkadang aku tersenyum sendiri memperhatikan setiap langkah kehidupanku, sungguh, Tuhan tak pernah menjadikan sesuatu itu sia-sia bagi siapa saja yang mau memikirkan.

Selasa, 03 Maret 2015

Cerita Kita

Mungkin orang lain melihat kita sedang bahagia, tapi mereka tidak tahu bahwa kita sebenarnya sedang sedih.
Mungkin orang lain melihat kita selalu tersenyum, tapi mereka tidak tahu bahwa kita sebenarnya selalu menangis.
Orang lain hanya bisa melihat apa yang tampak dari luar, tak mengerti yang sebenarnya terjadi di dalam.
Orang lain hanya bisa mendengar pokok ceritanya, tak mengerti yang sebenarnya jalan ceritanya.
Dikatakan atau pun tidak dikatakan, mereka tidak akan mengerti dan tidak mau mengerti, karena bagi mereka itu bukanlah hal penting.
Jadi, pahami, yakini, kuatkan hati kita, bahwa perjalanan ini, cerita ini, adalah milik kita, bukan mereka.
Jadi, abaikan pikiran dan hujatan mereka, karena bagi kita itu pun tidak penting.
Karena ini tentang kita, bukan mereka.
Itu saja.

Rabu, 10 Desember 2014

Sajak Kehidupan #2

Dan ketika kehidupan tak lagi miliki warna,
Hati tak lagi merasa,
Otak tak lagi berpikir,
Dan lisan tak lagi bicara,
Lalu, mau bagaimana lagi?

Perasaan yang telah terpendam sekian lamanya,
Amarah yang tersimpan dalam luka terdalam,
Senyuman yang tak lagi semanis dulu,
Mata yang tak memberi binar cahaya kehidupan,
Telinga yang serta merta acuh dengan krisan,
Lalu, mau bagaimana lagi?

Proses panjang, perjalanan kehidupan, seperti menjadi misteri yang tak berkesudahan.
Masa depan seolah memunculkan pertanyaan.
Kaki melangkah seakan menorehkan ragu.

Memang benar, dunia ini fana.
Tak ada satu manusia pun yang dapat dipercaya.
Setiap kata yang keluar dari lisannya hanyalah dusta.

Memang benar, dunia ini adalah panggung sandiwara.
Setiap manusia berkepentingan untuk mencapai kemakmuran dirinya, terlepas dari halal dan haram.
Membuat perhitungan dengan kuasa Tuhan untuk mencari penghidupan yang layak.
Mengukir kesombongan agar dianggap berharga.

Oh, Tuhan, mau bagaimana lagi?
Jika tak ada lagi manusia yang bisa dijadikan tumpuan dunia?
Jika tak satu manusia pun peduli dengan saudaranya.
Jika tak satu pun merangkul kekasihnya.

Oh, Tuhan, lalu, mau bagaimana lagi?

Selasa, 09 Desember 2014

Sajak Kehidupan #1

Sebetulnya, kemanakah arah tujuan dari perjalanan panjang ini?
Waktu demi waktu dihabiskan untuk sesuatu yang sebetulnya tak dimengerti.
Suka, cita, muram, duka, air mata, seolah tak mau habis dimakan masa,
Menjadikan hitam dan putih membias sejuta warna.
Sebetulnya, kemanakah arah tujuan perjalanan panjang ini?
Setiap hela napas, semangat, penat, masalah, solusi, menjadi suatu komponen yang disebut kehidupan.
Sebetulnya, kemanakah arah tujuan perjalanan panjang ini?
Hingga langkah kaki yang telah letih pun tak mampu berhenti di persimpangan.
Mencari-cari jalan keluar, mencari-cari pencerahan atas makna dari sebuah perjalanan.
Jadi, sebetulnya, kemanakan arah tujuan dari perjalanan panjang ini?
Apakah sekedar untuk sebuah kata 'sukses'?
Jadi, sebetulnya, kemanakah arah tujuan dari perjalanan panjang ini?

Rabu, 03 Desember 2014

Benciku Bukan Karena


Aku membenci bukan karena aku tak suka
Aku membenci bukan karena aku benci
Aku membenci karena tak mampuku
Aku membenci karena dia tak peduli


Mungkin kehidupan di luar sana lebih kejam dari ini
Mungkin dunia bebas memihak siapa saja yang dikehendaki
Mungkin kejujuran tak lagi berguna, kemampuan tak lagi bernilai
Hanya masalah seberapa penting diri ini di matanya
Tapi aku di sini memandang kosong tak mau mengerti
Memperhatikan duniaku yang ternyata tak lebih baik


Tak perlu mendung untuk menjadikan hari kelabu
Cukup kau bermain dengan lisanmu, menyunggingkan senyum termanismu,
Maka sekejap dia perhatikanmu

Dan saat itu juga kau telah berhasil menjadikan hari kelabu melengkapiku

Aku membenci bukan karena aku tak suka
Aku membenci bukan karena aku benci
Aku membenci karena tak mampuku
Aku membenci karena dia tak peduli


Sabtu, 07 Desember 2013

Lilin

Ada seorang sahabat bertanya, "Apa yang terlintas dibenakmu tentang lilin?". Lalu spontan aku menjawabnya, "Kehidupan". Dia pun bertanya alasanku. Aku berpikir sejenak. Entahlah, pikiran itu terlintas begitu saja. Tapi akan kupikirkan untuk memuaskan rasa ingin taunya. Hmm..., sebentar..

Lilin. Mungkin tak ada yang istimewa dari sebuah lilin. Dia hanya sebatang kecil yang habis dibakar habislah dirinya. Namun satu hal, dia tak menyerah untuk menerangi dunia dalam gelap meskipun remang-remang. Dia menerangi dunia dengan begitu indah. Meskipun hanya setitik cahaya, tapi lilin memberi penerangan, memberi kehidupan. Selain itu, dengan lilin, suasana bisa menjadi terasa manis, romantis, hangat, tenang, damai, dan sebagainya. Aku rasa begitu...