Tampilkan postingan dengan label setitik cahaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setitik cahaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Kajian Islam: Hijrah

By: Ressa Rere dan Ryan Qori'

Moslem identity; mengajak saudaranya sesama muslim dalam hal kebaikan dengan cara yang baik. Mereka tidak memaksakan, melainkan mendoakan dan mencontohkan.

Jika kita terus berbuat baik di jalan Allah, maka Allah akan memudahkan langkah kita menuju jalan kebaikan itu.

Proses berhijrah adalah menuju Islam yang lebih baik. Dalam prosesnya, selalu ada ujian-ujian yang Allah maksudkan untuk menaikkan level keimanan kita di hadapan-Nya. Hijrah bukan karena ingin dinilai oleh manusia, bukan agar dipandang baik oleh manusia, melainkan karena Allah. Think again! Apa niat kita berhijrah? Karena manusia kah? Atau karena Allah?

Bagaimana bisa kita mendapatkan jodoh terbaik jika niat kita memperbaiki diri hanya karena manusia/bukan karena Allah, padahal Allahlah yang Maha Memiliki Hati?

Ketika melihat sesuatu yang salah dan kita hendak menasihati, pertanyaannya adalah, ikhlaskah kita memberikan nasihat? Cara yang tepat untuk menasihati; 1) Mendoakan, 2) Menyampaikan dengan perlahan-lahan dan sembunyi-sembunyi.

Ketika kita menemukan jodoh yang tepat, mungkin saja Allah memberikan tanda dengan cara; 1) Menjadikan kita lebih semangat untuk berubah ke arah yang positif, 2) Allah mudahkan jalan menuju kebaikan.

Sebisa mungkin, hindari ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram). Melakukan komunikasi seperlunya, sewajarnya. Ikhtilat hanya diperbolehkan dalam empat hal; pendidikan, kesehatan, perniagaan, pemerintahan.

Wallohua'lam bisshowab.

Semoga menjadi setitik cahaya yang mencerahkan. :)

#YukBerhijrah
#Hamasah

Senin, 27 Februari 2017

Kajian Islam: Belajar Ilmu Agama

By: Ust. Syafieq Riza Basalamah 
 
Keuntungan belajar agama; 1) Allah mudahkan kita menuju surga, 2) Allah limpahkan segala kebaikan.
 
Semesta pun senantiasa mendoakan orang-orang yang berbuat kebaikan.
 
Beberapa hal yang membantu kita untuk istiqomah; 1) Rutin baca Quran, 2) Menghadiri majelis ilmu, 3) Pelajari ilmu, 4) Perbanyak amalan dzikir, 5) Membaca perjalanan hidup Rasulullah dan meneladaninya, 6) Berkumpul dengan orang-orang shalih, 7) Ziarah kubur, mengingatkan kita tentang kematian, 8) Meminimalisir waktu yang sia-sia dan memperbanyak waktu untuk beramal shalih.
 
Memohon pertolongan pada Allah dengan sabar dan shalat.
 
Bagaimana cara menjaga hati? 1) Menjaga pandangan, 2) Menjaga pendengaran.
 
Ketika kita melakukan satu dosa, maka akan ada satu noktah dalam hati. Perbanyak istighfar, karena istighfar dapat menghapus noktah-noktah tersebut. 
 
Urusan dunia hanya jembatan. Ketika kita mati, semuanya akan ditinggalkan. Jadikan urusan akhirat sebagai ambisi. 

Wallohua'lam bisshowab.

Semoga bisa menjadi setitik cahaya yang mencerahkan. :)

#YukBerhijrah
#Hamasah 

Jumat, 19 Juni 2015

Kisah Seorang Kawan, Sebuah Pencerahan

Ketika aku berada pada satu titik jenuh akan perjalanan ini, teringat pada kisah seorang kawan yang memilih untuk terus berjalan menatap masa depan yang menurutnya lebih nyaman dengan setelah ia menanggalkan keyakinannya. Mungkin baginya itu adalah salah satu jalan keluar terbaik, tapi akan berbeda sekali denganku. Aku tak tahu kelanjutan perjalananku jika aku melepas apa yang selama ini menjadi pegangan. Mungkin takkan lagi berarah, tak berkawan.

Memang, hidup dalam kesendirian itu tidak menyenangkan. Aku pun tak ingin selamanya merasa sepi. Namun sendirian itu sudah tak lagi menjadi masalah inti, bisa diwarnai dengan banyak tinta, terserah polanya sesukaku. Sepi itu berarti sendiri, tapi sendiri tak selalu sepi, karena aku masih miliki Dia. Itulah sebabnya, aku tak bisa melepaskan begitu saja. Pun itulah sebabnya aku bertanya-tanya, apa yang telah terjadi pada seorang kawanku itu. Aku berharap di suatu masa ia akan kembali menemukan cahaya-Nya. Mungkin tak banyak kebaikan yang bisa diinterpretasikan, meskipun sedikit usaha, tak berniat menyombongkan diri di hadapan-Nya, aku masih menjadi pemuja-Nya. Seburuk-buruk aku, tak ingin keyakinan itu tergadaikan oleh apapun. Cukup satu, cinta pada-Nya, meskipun tak sesempurna kasih-Nya padaku. Pun itulah sebabnya aku berharap seorang kawanku itu dapat merasakan hal yang sama. Alangkah lebih mudah perjalanan ini jika di setiap langkah ada yang mengarahkan, memberikan petunjuk, menjadi kawan saat sepi, menjadi kawan saat rindu, menjadi kawan di segala suasana. Cinta, selalu akan ada cinta tak terbatas dengan-Nya. Itulah sebabnya aku berharap seorang kawanku itu pun dapat meraih cinta yang sama, meskipun tak sesempurna cinta-Nya padanya.

Yah, akan selalu ada pelajaran hidup di setiap waktu, di setiap langkah, entah dari kawan, lawan, atau apapun yang takkan bisa tertebak. Yah, itulah hidup, itulah dunia kita. Hanya akan menjadi teka-teki dan biar esok tetap menjadi misteri.

Salam sejahtera untuk seorang kawanku itu. Semoga segera ada titik terang atas kegelisahannya. Sebuah pencerahan. Aaamiiin.

Sabtu, 07 Desember 2013

Lilin

Ada seorang sahabat bertanya, "Apa yang terlintas dibenakmu tentang lilin?". Lalu spontan aku menjawabnya, "Kehidupan". Dia pun bertanya alasanku. Aku berpikir sejenak. Entahlah, pikiran itu terlintas begitu saja. Tapi akan kupikirkan untuk memuaskan rasa ingin taunya. Hmm..., sebentar..

Lilin. Mungkin tak ada yang istimewa dari sebuah lilin. Dia hanya sebatang kecil yang habis dibakar habislah dirinya. Namun satu hal, dia tak menyerah untuk menerangi dunia dalam gelap meskipun remang-remang. Dia menerangi dunia dengan begitu indah. Meskipun hanya setitik cahaya, tapi lilin memberi penerangan, memberi kehidupan. Selain itu, dengan lilin, suasana bisa menjadi terasa manis, romantis, hangat, tenang, damai, dan sebagainya. Aku rasa begitu...