Sabtu, 29 Oktober 2016

Seperempat Abad

Kehidupan baru, cerita baru, teman baru.
Banyak perubahan yang terjadi di sepanjang tahun ini.
Ada yang pergi, ada yang kembali, ada pula yang hadir mengisi kekosongan hati.

Tuhan telah mengatur kehidupan ini dengan sangat baik. 
Dia mengambil satu, lalu Dia gantikan dengan yang lainnya. 
Dia uji aku dengan getirnya perjalanan hidup, lalu Dia biarkan aku menemukan pencerahan dan menjadikannya pelajaran.
Tuhan Maha Rahman, Tuhan Maha Rahim.
Tuhan masih ijinkan aku untuk hidup, memberiku kesempatan untuk menjadi baik.

Harapanku, aku ingin mewujudkan cita abah, yaitu hijrah.
Harapanku, aku ingin menjadi anak serba bisa, menjadi apa saja untuk amah.
Harapanku, aku ingin melihat orang-orang yang kusayang bahagia karena aku.
Aku mencintai kalian karena Allah.

Terima kasih karena selalu hadir dalam setiap kesendirianku.
Terima kasih atas setiap doa dan harapan baik, semoga Tuhan juga kabulkan atas kalian.
Barokalloh..

Hari ini adalah lembaran baru bagiku | ku di sini karena kau yang memilihku | tak pernah kuragu akan cintamu | inilah diriku dengan melodi untukmu | Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini | bukan karena kuat dan hebatku | Semua karena cinta | Tak mampu diriku dapat berdiri tegar | Terima kasih cinta...|

#hijrah #25th

Sabtu, 22 Oktober 2016

Lelah?


Coba ingat kembali.

Untuk sampai di tempat ini, berapa tangan yang sudah mendorongmu?
Berapa tangan yang sudah menarikmu?

Untuk sampai di tempat ini, berapa banyak hal yang sudah kau korbankan?
Berapa banyak hal yang sudah mereka korbankan untukmu?

Untuk sampai di tempat ini, seberapa banyak doa yang kau panjatkan?
Seberapa banyak doamu yang disemogakan oleh mereka?

Jadi, mau menyerah begitu saja?
Pertimbangkan lagi.

Akan banyak hati yang akan kau sakiti.
Akan ada janji yang pada akhirnya teringkari.
Akan ada harapan yang kau patahkan.
Dan...
Akan ada bahagia yang berubah duka.

Bertahanlah.
Sebentar lagi.
Hanya sebentar lagi.
Jangan berhenti.

Terinspirasi dari ig: asyamsa911

#keepfighting

Kamis, 20 Oktober 2016

Hijrah

Hijrah adalah memperbaiki diri. Menata kembali hidup kepada jalan yang seharusnya. Bukankah dalam setiap doa selalu meminta agar Tuhan senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus, menginginkan keberkahan dalam hidup, keridhoaan dalam setiap urusan? Jadi, ketika kita telah merasa bahwa ada yang salah dengan jalan hidup kita, hati menjadi resah, merasa hilang arah, mungkin itu berarti Tuhan sedang mengingatkan bahwa itulah saatnya kita harus kembali kepada-Nya. Memang tidak akan mudah, selalu ada tantangan yang menyertainya, termasuk diri sendiri. Namun, jika kita yakin dan telah memantapkan hati untuk mengembalikan semua urusan kepada Sang Pemilik dan Pengatur Kehidupan, lalu alasan apa lagi yang hendak membuat kita ragu dan berbalik arah dari-Nya? Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kau dustakan? Hidup adalah belajar. Belajar adalah hidup.  Sungguh Tuhan tidak pernah abai terhadap hal sekecil apapun tentang kita. Fluktuasi iman? Pasti. Tuhan takkan pernah membiarkan hamba-Nya tanpa diuji sampai terbukti bahwa kita benar-benar beriman dan bertaqwa pada-Nya. Istiqamah? Semoga Yang Maha Membolak-balikkan hati senantiasa menjaga kita untuk tetap berada di jalan-Nya yang lurus dan memberi petunjuk dalam setiap urusan.

Aaamiiin.

:)

Rabu, 14 September 2016

Tentang Aku

Aku tidak butuh kriteria yang aneh.

Aku hanya punya banyak mimpi dunia akhirat yang belum dicapai.
Memang aku tidak sedewasa penampilanku.
Terkadang aku bisa menangani orang lain.
Tak jarang hal sepele menurut orang lain, tapi aku malah bingung sendiri.

Aku mungkin punya banyak tuntutan.
Aku menuntutmu untuk menarikku saat aku butuh semangat.
Aku menuntutmu untuk mendorongku ketika aku lelah dengan kegiatanku.
Dan masalah itulah yang jarang orang lihat jika tidak kukatakan.

Jadi, bersediakah kamu membuang sebagian waktumu untuk semua hal itu? 
Hey, kamu.. Iyaa, kamu.. :)


Diambil dari catatan salah seorang sahabat terbaik saya- n13k -dengan sedikit perubahan

Senin, 05 September 2016

Dia (2)

Bagiku, dia adalah seorang figur yang sangat bijaksana. Aku belajar tentang kejujuran dan keikhlasan darinya. Mengalah tak berarti kalah. Menang tak berarti harus yang paling tinggi nada suara dan penekanannya.

Dalam pandanganku, dia adalah sosok yang lembut, tapi juga tegas. Dia terkesan tak peduli, tapi sebenarnya sangat perhatian. Dia adalah pendengar yang baik. Dia rela berjam-jam mendengar celotehku hingga dia tertidur. Di akhir hayatnya pun aku masih sempat bercuap padanya. Dia tak mengeluh. Dia senang mendengarku bercerita, berteriak, dan meluapkan ekspresi. Dia senang melihat aku tersenyum.

Ada dan tiadanya, masih saja dia adalah laki-laki terbaik di hidupku. Meskipun aku tak tahu asal usulnya aku, dia tetaplah cinta pertamaku. Dia adalah papaku.

Selamat ulang tahun ke-76, Papa. Aku mencintaimu karena Allah. Aku bangga memiliki ayah sepertimu. Semoga aku bisa memenuhi harapan dan cita muliamu. Semoga Allah perkenankan kita berkumpul lagi di Taman Surga-Nya kelak. Aaamiiin.

:)

Untuk ayah tercinta | aku ingin bernyanyi | walau air mata di pipiku | Ayah dengarkanlah | aku ingin berjumpa | walau hanya dalam mimpi

(5 September 1940-4 April 2016)

Selasa, 30 Agustus 2016

Terikat Masa Lalu?

Terbayang dan teringat semua hal yang terjadi pada masa lalu kadang membuatku sedih dan haru, tak kunjung habis berada dalam penyesalan. Namun, sekarang aku mengerti bahwa hidup ini memang harus terjadi, tetap harus berlangsung. Kesedihan masa lalu kuanggap sebagai sejarah yang menguatkanku. Ini tidak mudah, perlu perjuangan. Aku tidak bermaksud menghilangkannya dari jiwaku. Aku hanya ingin mengingatnya sebagai suatu pengalaman, nuansa yang membuat aku merasa berharga. Semakin sulit masa laluku, semakin aku menyadari bahwa aku sebenarnya kuat, karena bisa bertahan hingga saat ini. Terima kasih, Tuhan.

Kupejamkan mataku, kulihat diriku tersenyum, begitu damainya. Diri kecilku penuh harap. Dia ada di dalam diriku, menerima apa yang dia ingin terima. "Hai diri kecilku, tetaplah tenang. Damailah engkau di dalam batinku. Aku sudah menang. Aku sudah menang! Masa depan pasti indah! Aku akan selalu menjagamu, melindungimu. Terima kasih, engkau telah bertahan demi aku. Sekarang aku sudah tenang, menerima kenyataan, dan ikhlas demi kebahagiaan dan masa depanku." 

Ya Tuhan, terima kasih.

"Hai masa lalu, seringkali aku merasa tak dapat melepaskanmu. Entah kenapa, begitu tak rela. Aku seperti membohongi diriku sendiri, pura-pura bahagia, seolah-olah masa laluku baik-baik saja. Dada ini tak pernah lega. Ada yang menyangkut. Ada yang tak beres. Aku tak mau menipu diriku. Aku memang tidak bahagia dan aku ingin tahu bagaimana rasanya. Apa yang kuanggap bahagia selama ini ternyata hanya rasa senang. Untuk apa sih aku hidup?" 

Pertanyaan yang tak pernah terjawab. Untuk apa juga harus ada pertanyaan ini. Aku semakin tidak mengerti melihat orang lain hidupnya kok enak. Apa benar itu rasa bahagia yang sesungguhnya? Atau mereka juga sebenarnya mengalami hal yang sama dengan apa yang kurasakan? Bila bisa memilih, aku ingin berada di keluarga yang baik, punya orang tua yang sempurna.

Melihat orang lain yang lebih beruntung daripada aku, aku merasa seperti anak tiri kehidupan. Mengapa aku harus ada? Aku ingin merasa dibutuhkan. Lebih dari itu aku ingin sekali bisa merasa berguna. Siapakah yang butuh aku? Benar-benar butuh aku? Apakah benar-benar ada orang seperti itu, orang yang menggantungkan dirinya kepadaku? Mungkin hal ini yang bisa membuatku seolah-olah tegar menghadapi hidup ini. Capek juga kalau hidup untuk diri sendiri terus. Tapi, tujuan hidup ini sebenarnya untuk apa sih? Kok kehampaan ini tiada usai? Apa yang harus benar-benar kulakukan agar hanya ada kedamaian di hati? Tuhan, tolong jawab. Aku tahu Engkau menciptakan aku dengan sebuah tujuan, tapi apa?

Jeritan ini tidak akan pernah usai. Bisakah seseorang hadir dalam hidupku untuk menjawab pertanyaan ini? Aku berharap dia akan mengatakan bahwa aku ini penting baginya. Tapi ini sungguh konyol, aneh sekali, apa ini benar-benar kebahagiaanku? Bahkan saat sedang membaca buku ini, aku benar-benar merasa tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan.

Inilah diriku yang sesungguhnya. Lebih baik begini daripada pura-pura bahagia.

Aku ingin benar-benar bisa merasa bahagia. Bagaimana sih rasanya?

Tapi, apakah bahagia itu memang benar-benar perlu? Atau aku juga sudah tertipu pengaruh banyak orang bahwa hidup itu harus bahagia?

Bolehkah aku hidup tanpa bahagia, agar aku lebih bisa menerima diri dan tidak lagi mempertanyakan ketidakbahagiaanku ini sebagai suatu masalah?

Mungkin inilah jawabannya:

Aku ingin belajar tetap tenang dalam ketidakbahagiaanku. Bila memang kebahagian itu benar-benar ada dan aku tidak layak mendapatkannya, baiklah kalau begitu. Aku berusaha menikmati ketidaklayakanku ini.

Tapi jujur, aku akan lebih nyaman bila ternyata benar dugaanku bahwa kebahagiaan memang tidak harus ada.

Ini sangat menenangkan jiwaku. Tidak terlalu menuntut diri untuk bahagia karena memang tidak perlu.

Apakah aku sekarang sudah tenang?

Atau pura-pura tenang?

Apa lagi ini?

Tenang?

Kenapa mulutku mengucapkan tenang?

Apa bedanya tenang dan bahagia?

Tambah sulit saja. Tapi kok kayaknya kata tenang lebih nyaman aku dengar. Apakah aku sedang membutuhkan kata tenang sekarang, lebih daripada suatu kebahagiaan yang kudambakan dan tak pernah datang?

Apakah aku ingin tenang?

Seperti apa rasanya tenang?

Apakah seperti berhenti berharap untuk bahagia?

Seperti yang kurasakan sekarang, tidak terlalu berharap untuk bahagia lagi. Aku merasa tenang, tanpa pertanyaan lagi. Ternyata selama ini aku terganggu oleh sebuah pertanyaan hampa yang terus-menerus terngiang.

"Mengapa aku tidak bahagia?"

"Bagaimana agar aku bisa bahagia?"

Sekarang aku mengerti dan memutuskan untuk tidak bahagia saja. Mungkin bahagia tidak terlalu penting lagi bagiku sehingga aku bisa tenang, tidak terikat oleh kebahagiaan yang tadinya kukejar-kejar.

Jawaban ini sungguh aneh. Kutemukan jawaban yang sangat aneh. Dengan tidak mengejar kebahagiaan, justru jiwaku menjadi lebih tenang, tidak lagi berteriak untuk menuntut kebahagiaan. Aku memutuskan tidak terlalu memusingkan diri tentang ketidakbahagiaan. Toh aku tetap hidup sampai sekarang.

Aku lebih tenang sekarang. Tenang tanpa pertanyaan. Mungkin ketenangan adalah satu-satunya perasaan yang benar-benar ingin kurasakan.

Dan aku merasakan damai sekali, tentram sekali, sangat tenang.

Terima kasih, Tuhan.. dan kehampaan ini pun berlalu, berganti dengan jiwa yang damai.

Tak mau lagi bertanya. Cukup jalani saja semuanya.

Calm ending. Selamat tenang yaa..

Semoga percakapan 'aneh' ini dapat memberi Anda kekuatan batin dalam menghadapi hidup ini.

:)


Disadur dari buku Pemulihan Jiwa 7 karya Dedy Susanto

Minggu, 07 Agustus 2016

Filosofi dan Logika

Menempuh jalan yang panjang dan penuh dengan likunya
Egoku egomu mengajar kita tuk berhenti sejenak

Fatamorgana jalan kehidupan
Selami arti makna yang tersimpan di relung jiwa

Aku, kamu, dan logika kita, mungkin memang berbeda
Aku, kamu, dan cerita kita, ditemukan dalam kasih sayang semesta
Kurnia kita

Katakan padaku filosofi apa yang akan kau selami
Amarah dan dendam tak bisa lagi untuk kita warisi