Senin, 09 November 2015

Taaruf

Kelak saat dewasa, seorang anak pasti akan berpisah dengan orang tuanya. Entah orang tua yang meninggalkan anak atau anak yang meninggalkan orang tuanya. Kita tidak sedang membicarakan kematian. Setiap orang pasti akan mengalami mati. Ini soal masa depan.

Setelah menikah, seorang anak perempuan akan mengikuti suaminya. Pun, seorang anak laki-laki akan memiliki tanggung jawab baru sebagai pemimpin bagi istrinya. Keduanya harus mampu menahan masing-masing ego dan belajar bersikap dewasa dan lebih bijaksana.

Bismillah. Jika si fulan adalah yang terbaik, menjadi kebaikan di kehidupan saat ini dan mendatang, semoga Allah memudahkan urusan ini. Pun, jika bukan yang terbaik dan menjadi keburukan di kehidupan saat ini dan mendatang, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik dan Allah meridhoi. Aaamiiin.

Rabu, 04 November 2015

Kado ke-36

Ini hari yang spesial, bukan? Tidak terasa perjalanan ini sudah memasuki tahun ke-36. Sudah cukup matang. Sudah terlalu banyak cerita suka, duka, haru, biru, canda, tawa, tangis, bahagia, terlewati bersama. Usia 36 tahun adalah waktu yang cukup untuk bisa mengenal satu sama lain, memahami sifat baik dan buruk masing-masing. Semoga keluarga kita selalu sakinah, mawaddah, dan rahmah. Hidup rukun, bersahaja, dan sederhana. Selamat ulang tahun pernikahan. Aku mencintai kalian karena Allah. Amin.

Kamis, 29 Oktober 2015

Kado ke-24

Abah, tidak perlu menjadi sosok ayah yang sempurna. Pun Amah, tidak perlu menjadi sosok ibu yang sempurna. Aku tidak perlu hadiah mahal apapun. Aku hanya ingin, di usiaku saat ini, hidupku berkah, bermanfaat bagiku, bagi Abah dan Amah, bagi banyak orang, menjadi dewasa dan bijaksana. Hadiah yang kuinginkan adalah Abah dan Amah selalu sehat, selalu ada di sampingku, menguatkanku saat kujatuh, memberikan senyuman hangat di kala hujan. Aku mencintai kalian karena Allah. Semoga keluarga kita sakinah, mawaddah, dan rahmah. Amin. :)

Jumat, 23 Oktober 2015

Sekedar Alasan

Orang tua itu... sejak kita kecil hingga dewasa sekarang selalu memenuhi semua kebutuhan kita, mulai dari makanan yang beragam, pakaian dengan banyak model dan warna yang kita suka, tempat tinggal yang layak nan nyaman, biaya pendidikan yang terkadang besarnya di luar nalar, sampai uang jajan yang seringnya kita pakai (maaf) untuk dihamburkan percuma. Jadi, apa kita masih punya alasan buat marah-marah atau sekedar bermuka kusut pada orang tua?

Kamis, 08 Oktober 2015

Jangan Mengeluh, Bersyukurlah

Ketika kau merasa bahwa apa yang kau miliki saat ini tak cukup untuk memenuhi hasratmu, lalu bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang untuk memenuhi kebutuhan hariannya saja harus memeras peluh sepanjang waktu, siang dan malam.

Ketika kau merasa tidak nyaman dengan makanan yang terhidang di hadapanmu, bagaimana bisa kau menolak bahkan membuangnya seakan itu sia-sia, sedangkan orang-orang di luar sana, untuk mendapatkan sesuap nasi saja harus membanting tulang sepanjang waktu, siang dan malam.

Ketika kau merasa bahwa belajar dan sekolah adalah hal yang membosankan, lalu bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga tamat SLTA saja harus berjuang keras mengumpulkan biaya.

Terkadang hal yang kita anggap sepele, sederhana, atau mungkin tampak terlalu mudah didapatkan bisa jadi sangat rumit dan sulit untuk orang lain.

Terkadang hal yang kita anggap murah, bisa jadi teramat mahal untuk orang lain.

Terkadang hal yang kita anggap biasa saja, bisa jadi menurut orang lain itu luar biasa.

Tak perlulah kita mengeluhkan apa yang dimiliki mereka-mereka yang diberi kelebihan dan tak pula menjadi alasan untuk merendahkan mereka-mereka yang lebih kurang beruntung daripada kita. Bukankah kita hanyalah manusia biasa? Kita tak miliki hak apapun untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Di sisi Tuhan, manusia adalah sama, kecuali takwa.

Jangan mengeluh, bersyukurlah. Pandanglah diri kita sebagai golongan orang-orang yang beruntung. Tak perlu melihat orang lain, cukup perhatikan diri kita. Pantaskan diri kita di Hadapan-Nya, barulah kita bisa menilai apakah kita benar-benar lebih baik atau malah sebaliknya.

Jangan mengeluh, bersyukurlah.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sabtu, 03 Oktober 2015

Warna Hidup

Semua tujuan selalu dimulai dari titik nol. Hanya saja, setiap orang memiliki motivasi dan caranya sendiri untuk mencapai tujuan itu.

Semua orang berhak atas keberhasilannya mencapai suatu tujuan. Pun, dengan jalan ceritanya yang berbeda. Baik segera maupun tertunda.

Tiap persinggahan ada ribuan kenangan | perjalanan ini tak akan pernah tergantikan|

Selasa, 08 September 2015

Titik Nol

Terkadang, untuk melihat suatu masalah, engkau tak selalu harus mendekatinya, karena bisa jadi ketika kau terlalu dekat dengannya, engkau tak bisa melihat apa pun selain gelap. Terkadang kau butuh sedikit menjauh untuk bisa melihatnya lebih jelas dan dengan mata dan hati yang lebih terang dan terbuka.

Sejauh apa pun perjalananmu untuk menemukan pencerahan, jika dia memang takdirmu, maka akan ada saja celah yang akan mengarahkanmu kembali padanya.

Seberapa pun usahamu hendak menjauh, bagaimana pun engkau mencoba menghindarinya, jika dia memang takdirmu, engkau akan kembali padanya.

Dan, betapa pun engkau ingin mengakhirkannya, jika dia memang takdirmu, engkau akan kembali pada titik semula. Titik nol.

"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS.2;216)