Senin, 05 September 2016

Dia (2)

Bagiku, dia adalah seorang figur yang sangat bijaksana. Aku belajar tentang kejujuran dan keikhlasan darinya. Mengalah tak berarti kalah. Menang tak berarti harus yang paling tinggi nada suara dan penekanannya.

Dalam pandanganku, dia adalah sosok yang lembut, tapi juga tegas. Dia terkesan tak peduli, tapi sebenarnya sangat perhatian. Dia adalah pendengar yang baik. Dia rela berjam-jam mendengar celotehku hingga dia tertidur. Di akhir hayatnya pun aku masih sempat bercuap padanya. Dia tak mengeluh. Dia senang mendengarku bercerita, berteriak, dan meluapkan ekspresi. Dia senang melihat aku tersenyum.

Ada dan tiadanya, masih saja dia adalah laki-laki terbaik di hidupku. Meskipun aku tak tahu asal usulnya aku, dia tetaplah cinta pertamaku. Dia adalah papaku.

Selamat ulang tahun ke-76, Papa. Aku mencintaimu karena Allah. Aku bangga memiliki ayah sepertimu. Semoga aku bisa memenuhi harapan dan cita muliamu. Semoga Allah perkenankan kita berkumpul lagi di Taman Surga-Nya kelak. Aaamiiin.

:)

Untuk ayah tercinta | aku ingin bernyanyi | walau air mata di pipiku | Ayah dengarkanlah | aku ingin berjumpa | walau hanya dalam mimpi

(5 September 1940-4 April 2016)

Selasa, 30 Agustus 2016

Terikat Masa Lalu?

Terbayang dan teringat semua hal yang terjadi pada masa lalu kadang membuatku sedih dan haru, tak kunjung habis berada dalam penyesalan. Namun, sekarang aku mengerti bahwa hidup ini memang harus terjadi, tetap harus berlangsung. Kesedihan masa lalu kuanggap sebagai sejarah yang menguatkanku. Ini tidak mudah, perlu perjuangan. Aku tidak bermaksud menghilangkannya dari jiwaku. Aku hanya ingin mengingatnya sebagai suatu pengalaman, nuansa yang membuat aku merasa berharga. Semakin sulit masa laluku, semakin aku menyadari bahwa aku sebenarnya kuat, karena bisa bertahan hingga saat ini. Terima kasih, Tuhan.

Kupejamkan mataku, kulihat diriku tersenyum, begitu damainya. Diri kecilku penuh harap. Dia ada di dalam diriku, menerima apa yang dia ingin terima. "Hai diri kecilku, tetaplah tenang. Damailah engkau di dalam batinku. Aku sudah menang. Aku sudah menang! Masa depan pasti indah! Aku akan selalu menjagamu, melindungimu. Terima kasih, engkau telah bertahan demi aku. Sekarang aku sudah tenang, menerima kenyataan, dan ikhlas demi kebahagiaan dan masa depanku." 

Ya Tuhan, terima kasih.

"Hai masa lalu, seringkali aku merasa tak dapat melepaskanmu. Entah kenapa, begitu tak rela. Aku seperti membohongi diriku sendiri, pura-pura bahagia, seolah-olah masa laluku baik-baik saja. Dada ini tak pernah lega. Ada yang menyangkut. Ada yang tak beres. Aku tak mau menipu diriku. Aku memang tidak bahagia dan aku ingin tahu bagaimana rasanya. Apa yang kuanggap bahagia selama ini ternyata hanya rasa senang. Untuk apa sih aku hidup?" 

Pertanyaan yang tak pernah terjawab. Untuk apa juga harus ada pertanyaan ini. Aku semakin tidak mengerti melihat orang lain hidupnya kok enak. Apa benar itu rasa bahagia yang sesungguhnya? Atau mereka juga sebenarnya mengalami hal yang sama dengan apa yang kurasakan? Bila bisa memilih, aku ingin berada di keluarga yang baik, punya orang tua yang sempurna.

Melihat orang lain yang lebih beruntung daripada aku, aku merasa seperti anak tiri kehidupan. Mengapa aku harus ada? Aku ingin merasa dibutuhkan. Lebih dari itu aku ingin sekali bisa merasa berguna. Siapakah yang butuh aku? Benar-benar butuh aku? Apakah benar-benar ada orang seperti itu, orang yang menggantungkan dirinya kepadaku? Mungkin hal ini yang bisa membuatku seolah-olah tegar menghadapi hidup ini. Capek juga kalau hidup untuk diri sendiri terus. Tapi, tujuan hidup ini sebenarnya untuk apa sih? Kok kehampaan ini tiada usai? Apa yang harus benar-benar kulakukan agar hanya ada kedamaian di hati? Tuhan, tolong jawab. Aku tahu Engkau menciptakan aku dengan sebuah tujuan, tapi apa?

Jeritan ini tidak akan pernah usai. Bisakah seseorang hadir dalam hidupku untuk menjawab pertanyaan ini? Aku berharap dia akan mengatakan bahwa aku ini penting baginya. Tapi ini sungguh konyol, aneh sekali, apa ini benar-benar kebahagiaanku? Bahkan saat sedang membaca buku ini, aku benar-benar merasa tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan.

Inilah diriku yang sesungguhnya. Lebih baik begini daripada pura-pura bahagia.

Aku ingin benar-benar bisa merasa bahagia. Bagaimana sih rasanya?

Tapi, apakah bahagia itu memang benar-benar perlu? Atau aku juga sudah tertipu pengaruh banyak orang bahwa hidup itu harus bahagia?

Bolehkah aku hidup tanpa bahagia, agar aku lebih bisa menerima diri dan tidak lagi mempertanyakan ketidakbahagiaanku ini sebagai suatu masalah?

Mungkin inilah jawabannya:

Aku ingin belajar tetap tenang dalam ketidakbahagiaanku. Bila memang kebahagian itu benar-benar ada dan aku tidak layak mendapatkannya, baiklah kalau begitu. Aku berusaha menikmati ketidaklayakanku ini.

Tapi jujur, aku akan lebih nyaman bila ternyata benar dugaanku bahwa kebahagiaan memang tidak harus ada.

Ini sangat menenangkan jiwaku. Tidak terlalu menuntut diri untuk bahagia karena memang tidak perlu.

Apakah aku sekarang sudah tenang?

Atau pura-pura tenang?

Apa lagi ini?

Tenang?

Kenapa mulutku mengucapkan tenang?

Apa bedanya tenang dan bahagia?

Tambah sulit saja. Tapi kok kayaknya kata tenang lebih nyaman aku dengar. Apakah aku sedang membutuhkan kata tenang sekarang, lebih daripada suatu kebahagiaan yang kudambakan dan tak pernah datang?

Apakah aku ingin tenang?

Seperti apa rasanya tenang?

Apakah seperti berhenti berharap untuk bahagia?

Seperti yang kurasakan sekarang, tidak terlalu berharap untuk bahagia lagi. Aku merasa tenang, tanpa pertanyaan lagi. Ternyata selama ini aku terganggu oleh sebuah pertanyaan hampa yang terus-menerus terngiang.

"Mengapa aku tidak bahagia?"

"Bagaimana agar aku bisa bahagia?"

Sekarang aku mengerti dan memutuskan untuk tidak bahagia saja. Mungkin bahagia tidak terlalu penting lagi bagiku sehingga aku bisa tenang, tidak terikat oleh kebahagiaan yang tadinya kukejar-kejar.

Jawaban ini sungguh aneh. Kutemukan jawaban yang sangat aneh. Dengan tidak mengejar kebahagiaan, justru jiwaku menjadi lebih tenang, tidak lagi berteriak untuk menuntut kebahagiaan. Aku memutuskan tidak terlalu memusingkan diri tentang ketidakbahagiaan. Toh aku tetap hidup sampai sekarang.

Aku lebih tenang sekarang. Tenang tanpa pertanyaan. Mungkin ketenangan adalah satu-satunya perasaan yang benar-benar ingin kurasakan.

Dan aku merasakan damai sekali, tentram sekali, sangat tenang.

Terima kasih, Tuhan.. dan kehampaan ini pun berlalu, berganti dengan jiwa yang damai.

Tak mau lagi bertanya. Cukup jalani saja semuanya.

Calm ending. Selamat tenang yaa..

Semoga percakapan 'aneh' ini dapat memberi Anda kekuatan batin dalam menghadapi hidup ini.

:)


Disadur dari buku Pemulihan Jiwa 7 karya Dedy Susanto

Minggu, 07 Agustus 2016

Filosofi dan Logika

Menempuh jalan yang panjang dan penuh dengan likunya
Egoku egomu mengajar kita tuk berhenti sejenak

Fatamorgana jalan kehidupan
Selami arti makna yang tersimpan di relung jiwa

Aku, kamu, dan logika kita, mungkin memang berbeda
Aku, kamu, dan cerita kita, ditemukan dalam kasih sayang semesta
Kurnia kita

Katakan padaku filosofi apa yang akan kau selami
Amarah dan dendam tak bisa lagi untuk kita warisi

Sabtu, 11 Juni 2016

Sajak Kehidupan #5

Ketika kau lelah berjalan, berhentilah sejenak, berpikir, dan cobalah untuk memulainya kembali.

Terkadang untuk mencapai satu titik tertentu, akan ada satu-dua hal, yang mungkin tak peduli kau suka atau tidak, namun kau harus melaluinya juga, entah cepat atau lambat. Lebih banyak diam takkan ada artinya. Terlalu berpikir keras pun tak berguna. Hanya lakukan saja sebaik mungkin yang kau bisa. Just do it. Action.

Mungkin memang tak semudah diucapkan, butuh waktu untuk membentuk keberanian. Namun setidaknya ada secercah semangat yang menunjukkan bahwa kau hendak mencapainya. Titik penyelesaian. Ayolah, titik itu sudah dekat. Sebentar lagi kau sampai. Teruslah bergerak. Perjuangkan.

Seandainya kau tahu bahwa kau sungguh berharga | kau bisa jadi apa saja asal kau berupaya | Seandainya kau tahu apa doa ayah dan bunda | tak mungkin sampai engkau tega mematahkan isinya | Teruslah bergerak hingga rasa lelah | sendiri terlelap mengikutimu | Sebab nanti suatu hari kau akan tersenyum setiap pagi | menikmati jerih diri dan segala yang telah kau lalui | Sebab nanti suatu hari kau punya cerita tuk dibagi | tentang mimpi yang tak pasti namun kau membuatnya terjadi | Belum saatnya berhenti | Ayo terus dekati semua mimpi | Seandainya kau tahu apa di balik gunung sana | terhampar padang bunga-bunga | kau akan bahagia | Seandainya kau tahu bahwa anak-anakmu kelak inginkan sebuah cerita pahlawan di hidupnya | Teruslah bergerak hingga rasa lelah | Sendiri terlelap mengikutimu.. (Mutia Prawitasari, Juli-Di Balik Gunung)

Minggu, 15 Mei 2016

Pernikahan #3

Rasa itu hanya kita yang tahu.
Tidak perlu membandingkan satu dengan lainnya.
Cukup kita.

Setiap kita pasti pernah miliki masa lalu.
Tapi kita tidak akan menyelesaikan hidup ini untuk masa lalu, melainkan masa depan.
Dan masa depan itu adalah kita.
Aku dan kamu. Iyaa, kamuuu.

Insya Allah.

Bismillah, jika menurut Tuhan kita adalah terbaik, maka semoga Dia memudahkan langkah kita menuju jalan kebaikan-Nya. Aaamiiin.

:)

Jumat, 29 April 2016

Kawan, Kau adalah Inspirasi!

Kita memulai perjalanan ini bersama.

Dulu kita sering mengeluhkan tentang betapa beratnya ini, tentang getirnya hidup, tentang sulitnya mencapai titik yang kita harapkan, berbagi cerita tentang kita dan mereka.

Dulu kita pernah sepakat untuk menyelesaikan ini bersama, hingga pada satu masa kutemukan titik jenuh yang membuat kita terpisah beberapa jarak.
Sementara kau terus melangkah maju dengan sisa harap yang kau punya.

Kini kau telah mencapai titik itu.
Kau telah berhasil menaklukan semua tantangan itu.
Kini kau telah menikmati hasil jerih payahmu selama ini.
Dan kini kau miliki babak baru dalam hidupmu.
Selamat atas pencapaianmu.
Kau adalah pemenang.

Dan aku, biarkanku menjadikanmu sebagai inspirasi.
Bagiku kau adalah motivasi.
Aku tahu kita akan menyelesaikannya, cepat atau lambat, jika kita pantang menyerah.
Kau telah menunjukkannya padaku.
Kau telah buktikan kata-kata itu.
Kini adalah masaku,
berjalan selangkah demi selangkah untuk menyusulmu,
mengikuti jalan kemenanganmu.

:')

Minggu, 17 April 2016

Sajak Kehidupan #4

Ada yang datang, ada juga yang pergi.
Setiap dari mereka menjadi motivasi untukku melangkah maju. 
Perjalanan mendaki terlampaui satu dua kaki, lalu terjerambab beberapa kaki di bawahnya. 
Kini satu per satu mereka telah pergi dan aku masih saja diam di titik yang sama (lagi). 
Mereka adalah penyemangat. 
Mereka adalah motivasi. 
Akan tetapi esok mungkin mereka sudah tak ada lagi. 
Lalu, dimana aku bisa menemukan pengganti?